Merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa. Itulah kesadaran yang muncul kala "berhasil" menghabiskan lebih dari 100 buku di tahun ini --tahun 2025. Dari berbagai informasi yang sudah diperoleh, malah muncul segudang pertanyaan baru dan keingintahuan tanpa batas. Tampaknya masih banyak misteri yang belum terungkap. Apalagi setelah melihat tumpukan buku di dalam kamar, yang belum tuntas dibaca, bahkan ada yang tak tersentuh, tersimpan rapi plastikan.
Tentang filsafat, membaca kembali topik eksistensialisme Jean-Paul Sartre, justru ingin berkenalan dengan buku-buku Albert Camus. Sebab pada buku Sartre itu, nama sang penulis "The Myth of Sisyphus" kerap disebut. Mengenai politik, buku "Paradoks Demokrasi" karya Chantal Mouffle berisi istilah-istilah baru yang berulang kali harus saya temukan artinya di kamus atau mesin pencari. Termasuk hal-hal yang dekat dengan kita, tema perbedaan kelas, polarisasi paham "kanan" dan "kiri" yang menyebabkan sering merenung, terlampau banyak informasi alpa dari diri saya. Belum lagi menyoal agama-agama di dunia.
Kesemuanya itu menjadikan pribadi ini kecil, menyadarkan betapa sungguh melimpah ilmu yang disebar Allah subhanahuwata'ala di jagat raya. Maka memang sampai diibaratkan tak akan cukup air di samudera sebagai tinta menuliskannya. Demikian kualitas dari membaca buku. Sensasi menghibahkan detak-detik hidup bersama buku.
Sedangkan pada sisi kuantitas --jumlah judul buku, dibandingkan tahun sebelumnya, ada peningkatan. Tahun lalu saya sanggup menyelesaikan sekitar 85 buku. Dan agaknya masih sangat kurang. Lalu terbesit pertanyaan apakah saya mampu melampauinya. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa tahun ini harus lebih banyak lagi.
Namun, kelihatannya cukup, tahun depan saya ingin mencoba pendekatan baru. Rencananya satu bulan hanya baca satu buku, tetapi dipelajari dan dipahami betul-betul secara mendalam. Tidak seperti tahun ini yang rasanya mirip dikejar setoran, wajib mencapai target.
Bagaimana cara mengetahui berapa keseluruhan buku yang sudah dibaca? Jelas ada berbagai metode. Kalau saya, selama ini memanfaatkan Goodreads, tepatnya berpartisipasi dalam Goodreads Reading Challenge. Tantangan yang saya ikuti dari tahun 2015. Ya, selama 10 tahun ini saya rajin menjalaninya, meski target buku berbeda tiap tahunnya. Realisasinya pun bermacam-macam. Kadang melebihi, tak jarang pula jauh di bawah sasaran.
Goodreads Reading Challenge akan membantu kita demi meningkatkan jumlah bacaan. Kita akan terpacu untuk mendapatkan berbagai "achievement" yang disiapkan. Selain memanfaatkan tantangan itu, ada beberapa tips yang hendak saya bagikan. Siapa tahu Anda sekalian ingin memulai hobi baru.
Pertama, letakkan buku-buku di banyak tempat sehingga mudah dijangkau. Di sebelah kasur tidur, di atas meja makan, di ruang kerja, di mana saja. Tak masalah jika dalam satu waktu, kita membaca 3-4 judul buku secara beriringan. Dengan membuat buku gampang diraih, tentunya akan mempercepat kita saat keinginan membaca buku itu muncul.
Hal ini juga bisa diterapkan ketika kita bepergian. Bawalah buku, sebab buku sebaik-baiknya teman perjalanan. Kita mesti menormalisasi orang membaca buku di dalam kereta, pesawat, atau bus. Tidak perlu mencibir atau mengganggap kegiatan itu terlalu "wah". Padahal ya membaca buku itu "biasa-biasa saja".
Apabila masih belum berani lantaran sungkan menikmati buku fisik di tempat umum, kita bisa memanfaatkan e-book atau buku elektronik/digital. Saya biasanya menggunakan Google Play Store. Aplikasi ini berisi banyak buku bermutu dan jika kita beruntung menemukan buku-buku gratis.
Kedua, kurangi screen time sia-sia. Kurangi melihat gawai hanya untuk menggulir layar, menikmati video-video singkat. Terlalu berlebihan dan kecanduan hal itu menyebabkan kita susah fokus dan rentan terkena brain-rot. Dan buku adalah kebalikannya. Melalui bacaan, isi kepala akan menjadi aktif. Berbagai dialektika, pertentangan, diskusi yang terjadi di dalam kepala, niscaya dapat menajamkan fungsi otak. Lama-lama Anda akan terbiasa untuk menjauhkan HP atau tablet dan mendekatkan buku-buku. Atau ya kalau sesulit itu, bacalah e-book.
Ketiga, luangkan waktu membaca di pagi hari. Terdapat adagium, barangsiapa bisa menaklukan waktu pagi, maka ia mampu memenangkan seluruh harinya. Waktu luang yang kadang kita sepelekan adalah waktu pagi, bisa jadi selepas salat subuh dan mendaras Al-Qur'an. Daripada melihat konten-konten tidak jelas, lebih baik mengisi kepala dengan bacaan berkualitas. Selain menambah lembar yang dibaca, otak segar kita membutuhkan nutrisi. Usul saya, kalau Anda baru memulai aktivitas ini, bacalah fiksi.
Ketiga tips di atas sangat sederhana dan mudah diimplementasikan. Mudah kok! Setelahnya Anda sanggup meningkatkan jumlah buku yang dibaca. Sambil perlahan-lahan, cobalah untuk melatih minat dan daya baca. Seberapa kuat membaca buku, berapa lama durasi yang dibutuhkan sebelum kita terdistraksi, itulah yang dinamakan daya baca. Walaupun faktor buku yang dibaca juga memengaruhi. Tentu saja berbeda jika kita membaca buku dengan topik yang digemari, dengan yang kita enggan mempelajarinya.
Membaca buku yang kita senangi, akan membawa kita ke dalam flow. Kondisi saat pikiran begitu fokus dan menikmati setiap kata-paragraf buku. Tak sengaja lembar demi lembar dihabiskan. Dan memang tak semua buku bagus sebagai page-turner.
Intinya, temukan satu buku untuk membuat Anda jatuh cinta membaca, menjadi seorang bibliofil.
Kembali seperti telah dituliskan di atas, selepas terbiasa melahap buku-buku, beberapa manfaat dan hikmah akan diraih. Barang tentu apa yang saya sebutkan di bawah ini belum semuanya. Barangkali Anda dapat menyebutkan lebih banyak, sebab sejatinya Anda adalah orang yang mudah belajar, hanya saja selama ini belum mempunyai minat membaca buku.
Manfaat pertama yang dirasakan sehabis membaca ratusan buku ialah saya memiliki banyak topik obrolan. Basa-basi tanpa perlu menanyakan hal-hal pribadi contohnya kapan nikah, kapan punya anak, dan kapan-kapan lainnya. Ini sudah tahun 2025, Rek! Bervariasi sekali materi untuk memulai obrolan di era modern ini.
Selain itu, bahan bercanda juga semakin melimpah. Mungkin benar ada yang bilang kalau pelawak itu orang yang genius karena bisa meramu naskah candaan dari berbagai sumber. Dan, topik cabul atau seksis bukan salah satunya. Malahan menurut saya tema itu serendah-rendahnya candaan. Setingkat dengan candaan yang bersifat meremehkan (abusing) dan bullying. Ah, andai semua orang baca buku berkualitas sampai humor cabul dan perundungan bisa lenyap dari atas muka bumi.
Manfaat kedua, saya bisa lebih memahami orang lain. Bisa berempati dan bersimpati. Hal ini didapatkan dari bacaan fiksi (novel dan cerpen). Fiksi akan memaksa kita menjelma tokoh utama atau minimal pemantau tokoh utama dari kisah yang kita baca. Kita dituntut untuk bisa memahami alur cerita, melalui perasaan tokoh-tokoh dan apa yang sedang diperbuatnya. Darinyalah juga kita bisa memperoleh banyak pemikiran, sehingga otak kita akan mekar, hati kita akan jembar.
Kita tidak akan mudah membahas aib orang (gibah/gosip); kita lebih berhati-hati dalam menilai perilaku orang lain; kita jadi bisa menaruh kaki kita di sepatu mereka. Bukan berarti tidak tegas, melainkan kita lebih bijaksana dalam merespon segala sesuatu. Saya membayangkan, apabila memang kampung halaman kita surga, maka di dunia ini kita dituntut untuk melatih jiwa supaya bisa layak menjadi penghuninya. Yang santun, bijaksana, pemaaf. Tanpa keraguan, ini adalah pengingat bagi diri saya pribadi.
Manfaat ketiga, otak terbiasa untuk merelasikan banyak hal yang terlihat acak dan tidak menyambung. Karena dilatih membaca 4-5 buku secara beriringan, yang tidak sengaja dipilih --ternyata memiliki kandungan isi yang saling berkelindan, saya bisa menemukan kesamaan dari buku-buku yang dibaca tersebut. Rasanya luar biasa jika kita dapat mengambil satu garis lurus dari bab-bab yang dibaca, buku yang berbeda-beda. Seakan-akan kita "berjodoh" dengan buku-buku itu, apalagi yang sangat related atas kehidupan yang dihadapi.
Hikmah lainnya. Buku ibarat sebuah jendela, untuk melihat ke dalam, rumah hakikat diri dan melihat ke luar, luasnya kebijaksanaan. Keduanya adalah sarana lebih mengenal Tuhan Yang Maha Esa, Allah subhanahu wa ta'ala. Apa pun buku yang dibaca, baik fiksi maupun non-fiksi. Baik yang secara eksplisit mengajarkan kepada 'jalan' untuk mendekat kepada-Nya, maupun yang implisit atau sama sekali tak membahas tema itu, yang mengharuskan kita mencari 'jalan' sendiri melalui tiap kata yang dibaca.
Berbagai pembahasan yang ada di dalam buku, apabila kita melihatnya dengan lebih jernih, niscaya terselip hikmah-hikmah yang dapat mengantarkan kita kepada kehambaan. Oleh karena itu, kita tidak bisa lepas dari buku. Termasuk Al-Qur' an, tentunya.
Syahdan, membaca 100 buku di tahun ini mengorbankan banyak hal. Waktu, tenaga, dan biaya. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang mana saya selalu aktif dalam kepanitiaan, tahun ini nihil. Waktu luang saya lebih banyak, yang akhirnya mau tak mau dialokasikan khusus kepada buku.
Tenaga saya juga cukup terserap guna membersamai buku. Duduk lama, mata dipaksa terus fokus, pikiran stres merupakan konsekuensi yang saya ambil. Syukurnya dibarengi dengan kegiatan lari pagi-sore, meski tidak seintens dulu.
Lalu, perihal biaya. Tak perlu ditanyakan lagi. Sudah banyak ongkos yang saya keluarkan hanya untuk memenuhi target 100 buku. Saya menjadi konsumtif. Jika diberi pertanyaan, mengapa tidak pinjam saja di perpustakaan? Jawabannya, lantaran saya ingin mengoleksi buku bagus. Buku yang bisa saya baca berulang kali di masa mendatang. Perasaan bahagia saat memiliki (sendiri) buku-buku berkualitas. Boleh dong hedon dalam hal ini?
Namun, terlepas dari pengorbanan-pengorbanan di atas, menamatkan 100 buku sangat sepadan dengan bermacam hal positif yang saya dapatkan. Setidaknya, di tahun ini, atau bahkan dalam hidup saya, salah satu target saya bisa tercapai.
Terlebih, dengan buku saya bisa menjadi diri saya sendiri.
"Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas." — Mohammad Hatta

0 comments:
Posting Komentar