Senin, 16 Maret 2026

Beyond Integrated Customer Experience

Customer Experience

"Kau tahu, kan, setengah pejabat di sini mengawali karier mereka dari Departemen Customer Experience?"

"Tentu saja!" jawab Mae.

Obrolan di atas merupakan kutipan novel "The Circle" karya Dave Eggers. Sebuah fiksi distopia terbitan 2013 yang mengangkat tema teknologi informasi (TI). Dengan kisah utama pada The Circle, perusahaan media sosial, surel, perbankan, dan mesin pencari paling besar dan ambisius.

Mae Holland, sang tokoh utama diceritakan memulai karier sebagai agen Customer Experience (CX). Lalu di akhir cerita, Mae menjadi salah satu orang paling berpengaruh di The Circle. Bahkan dia bisa menentukan arah perusahaan. Mengapa karier Mae begitu mulus dan menanjak? Tak lepas dari kerja kerasnya dan pola pikir customer-centric serta hubungan dengan orang lain yang dilatih sejak masih di CX.

Fungsi Customer Experience (CX) adalah "perluasan" dari Customer Services (CS). Jika CS fokus kepada hal-hal teknis dalam menangani keluhan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan, maka CX lebih berpusat pada bagaimana pengalaman dan perasaan yang dimiliki pelanggan tentang layanan/produk yang dijajakan suatu perusahaan.

CS akan menanyakan apakah informasi yang diberikan oleh agen sudah memenuhi ekspektasi pelanggan. Sedangkan CX akan bertanya apa yang dirasakan terkait informasi yang disampaikan dan layanan/produk secara umum.

Esai ini coba menerangkan bagaimana konsep "Beyond Integrated Customer Experience" yang dimaksud pada judul. Namun, sebelum itu mari kita bahas hal paling mendasar terlebih dahulu. Berawal dari CS atau Service Desk (SD).

Sama seperti The Circle, kita tahu bahwa semua perusahaan menyediakan barang dan/atau jasa sebagai fokus utamanya. Salah satunya berbentuk pemberian layanan (services). Sehingga aftersales yang baik, berupa penanganan laporan dan pertanyaan dari pelanggan, yang cepat dan tepat, menjadi suatu keharusan. Inilah tugas Fungsi Customer Services.

Mereka yang pekerjaan sehari-harinya berhadapan langsung dengan pelanggan biasanya lebih mengerti apa yang dibutuhkan oleh pasar. Dan di saat bersamaan, mereka 'terbiasa' menjembatani antar Fungsi pengelola layanan (service owner). Belum lagi tuntutan harus selalu menjaga kualitas interaksi dan kepuasan pelanggan.

Maka tak heran jika dikatakan karier awal sebagai petugas Customer Experience merupakan modal pas untuk bisa menduduki jabatan tinggi di kemudian hari. Walaupun kenyataannya tidak bernasib sama, pernah berkontribusi di CX, CS, atau SD adalah pengalaman luar biasa. Setidaknya kita berperan mulia dalam menyelesaikan permasalahan atau urusan orang lain.

Pengalaman saya pribadi bekerja di Fungsi Customer Services (CS) pun demikian. Terdapat banyak hal yang sekiranya perlu untuk dicatat, diceritakan, dan dijadikan hikmah. Semua hikmah yang tertulis di sini semoga bisa menjadi pengingat di masa depan. Juga gagasan tentang "Beyond Integrated Customer Experience" sebagai pelengkapnya.

Fungsi yang Sering Disalahpahami

Banyak pelanggan atau bahkan pekerja Fungsi lain di internal suatu perusahaan yang tidak mengetahui bagaimana sebenarnya Fungsi Customer Services (CS) bekerja. Karena tugas utama hariannya "hanya" mendengarkan dan menangani keluhan dan pertanyaan dari pelanggan, maka Fungsi CS sering disalahpahami. Asumsi bahwa jobdesk seperti itu sepele. Padahal CS ujung tombak perusahaan dalam menangani pengalaman pelanggan. Tidak mungkin semuanya ditangani dengan biasa-biasa saja dan tanpa skill serta managemen yang profesional.

Selain itu, kesalahpahaman yang terjadi memunculkan sangkaan kalau masih banyak hal yang "perlu" diperbaiki di Fungsi CS. Mereka tidak mengetahui kalau CS sudah memiliki prosedur quality assurance (QA) untuk mengevaluasi interaksi dengan pelanggan; atau penerapan standar ISO 20000 dalam hal managemen layanan teknologi informasi; atau berbagai prosedur operasional lainnya yang sudah standar. Sehingga orang di luar CS terpanggil untuk menerapkan bermacam improvement yang sebetulnya tidak dibutuhkan atau tidak tepat sasaran. Jadinya seperti menggarami lautan. (Baca tulisan: Seperti Menggarami Lautan)

Tidak apa-apa. Sebab CS memang dekat dengan pelanggan, maka usulan peningkatan kualitas bisa muncul dari mana saja, dari siapa saja.

Dan memang, ada banyak perbaikan dan peningkatan yang dapat dilakukan oleh Fungsi tersebut. Beberapa di antaranya tercatat di sini. Tentunya semua usulan berdasarkan pengalaman langsung saya selama membersamai para agen CS. Maksudnya, bukan ide yang berasal dari orang luar, yang tak mengetahui "dapur" CS. Membuat CS fungsi yang sering disalahpahami.

Saya pun dulu pernah salah paham tentang CS. Salah paham saat dimutasi dengan membawa ide-ide yang ternyata tidak perlu. Salah paham karena mengira akan "lebih lama" berada di CS, kalau tidak boleh disebut selamanya.

Sebuah Value: Central (of) Solutions

Ketika dipindah ke fungsi Customer Services (CS) TI (Teknologi Informasi) di perusahaan tempat saya bekerja, tebersit sebuah ide, yaitu jargon "Central (of) Solutions" --kepanjangan alternatif dari "CS".

"Central (of) Solutions" dapat diartikan dengan mudah secara literal "pusat solusi". Tempat para pelanggan (customer), yang merupakan pekerja internal perusahaan, mendapatkan solusi atas berbagai permasalahan layanan TI yang dihadapi. Harapannya dengan jargon itu, Fungsi CS mampu membawa semangat one stop solution, tanpa perlu eskalasi ke Fungsi lain. Semua pertanyaan dan laporan dari pelanggan bisa dapat tertangani dan selesai di CS.

Ketika berbicara tentang managemen sebuah tim, penggunaan "value" sangat penting, apalagi yang dituntut bermacam capaian dan ekspektasi. Ini bukanlah ide baru. Di dalam organisasi, kita mengenal yang namanya visi dan misi. Atau bisa menggunakan moto dan semboyan.

Value atau nilai bagi sebuah organisasi, wajib ditentukan oleh seorang pemimpin, entah top-down atau hasil diskusi tim. Sebab, value tersebutlah yang akan menjadi pedoman bagaimana pekerjaan diselesaikan. Dan paling utama, juga yang mengomando pemimpin kepada semua anggota tim. 

Seorang pemimpin tentu tidak akan memantau masing-masing aspek. Hal paling dibutuhkan ialah nilai yang dijalankan bersama. Dengan adanya hirarki, garis koordinasi, dan item-item organisasi lainnya.

Tak terkecuali bagi CS, memiliki semangat yang disepakati bersama seperti "Central (of) Solutions" akan membawa mindset saat melaksanakan operasional. Karena selain mudah dihafal dan dilafalkan, jargon seperti itu bisa menjadi fondasi kuat sebelum kita beralih ke pembahasan ide-ide lainnya. Menjadi semacam penyaring, apakah ide-ide yang akan diterapkan di CS sejalan dengan nilai-nilai yang ada atau tidak atau bahkan bertentangan.

Sebuah Tindakan: Central (of) Solutions

Lalu, bagaimana implementasi dari value "central (of) solutions"? Pertama-tama kita harus memahami bahwa setiap pelanggan yang menghubungi CS selalu membawa kebutuhan. Entah itu laporan kendala yang perlu diselesaikan atau pertanyaan yang harus dijawab. Kebutuhan-kebutuhan mendesak, setidaknya bagi sang pelanggan, yang wajib dipenuhi dengan segera.

Apabila kebutuhan pelanggan tidak segera tertangani, akan berpotensi memberikan pengalaman yang buruk dan menimbulkan kekecewaan. Terlebih jika kebutuhan tersebut perlu dieskalasi ke Fungsi selain CS atau level/layer 2 (L2).

Hal ini menjadi permasalahan umum semua CS. Tiket laporan yang menumpuk dan menjadi bottleneck di L2. L2 perlu memastikan laporan yang diterima sejelas mungkin sehingga mudah ditindaklanjuti. Belum lagi soal tingkat kesulitan dari laporan-laporan yang masuk. Jika laporan sampai diteruskan ke L2, berarti L1 (maksudnya: Fungsi CS) tidak bisa menangani.

Mengapa hal tersebut terjadi? Dan mengapa disebutkan bahwa umum ditemui di CS? Berdasarkan pengalaman dan penilaian pada operasional di sana, sekurang-kurangnya disebabkan 2 faktor, yaitu masalah otorisasi dan pengetahuan (knowledge).

Dalam managemen operasional, memang diperlukan adanya segregation of duty yang baik, pembagian fungsi dan tanggung jawab yang jelas. Termasuk dalam hal pemilahan antara L1 dan L2 di Fungsi IT. Masing-masing selayaknya memiliki batasan-batasan, mempunyai otorisasi.

Fungsi CS yang menerapkan "central (of) solutions" harus mulai mempertimbangkan dan meninjau kembali otorisasi L1 dan L2. Kalau memang banyak pekerjaan yang "sederhana" dan "mudah" dan telah memiliki proses pencatatan di sistem, yang sebelumnya ada di L2, bisa dialihkan ke L1. Itu akan lebih baik. Terkait ini dapat pula dianalisa dari tren tiket yang masuk ke CS.

Pelanggan tentu akan merasa sangat puas jika laporannya bisa diselesaikan langsung saat ia menelpon, mengirimkan surel, atau mendatangi gerai (walk-in) CS. Pelanggan tidak akan peduli siapa yang mengerjakan, yang penting kebutuhannya cepat terpenuhi dan terselesaikan.

Sehingga pembahasan otorisasi Fungsi CS adalah hal yang amat sangat penting.

Faktor kedua yang tak kalah krusial, bahkan menjadi signifikan untuk dibahas ialah menyoal pengetahuan agen CS.

Pengetahuan agen CS terkait produk atau layanan perusahaan perlu dijaga kualitasnya. Seberapa benar, detail, akurat, dan standar sebuah pengetahuan, merupakan tanggung jawab tim. Hal ini tidak hanya sebagai bentuk konsistensi atas jawaban yang diberikan kepada pelanggan, tetapi juga "pegangan" yang bisa meningkatkan tingkat kepercayaan diri agen.

Pengetahuan juga kunci implementasi "central (of) solutions". Dengan banyaknya informasi akan suatu produk dan layanan yang diketahui oleh agen, atau minimal bisa langsung diakses olehnya, pertanyaan dari pelanggan tidak butuh dieskalasi. Agen CS bisa langsung memberikan solusi saat itu juga.

Fungsi CS yang profesional dan baik akan memastikan pengetahuan agen selalu up-to-date, lengkap, dan informatif. Oleh sebab itu, pengelolaan pengetahuan (knowledge management) menjadi hal yang penting. Harus ada orang yang bertugas sebagai service/product owner atau knowledge manager. Sebagai penanggung jawab pengetahuan agen CS.

Pengelolaan pengetahuan juga perlu didukung oleh sistem knowledge management yang terintegrasi dan prosedur yang canggih. Karena sekali lagi, "central (of) solutions" tanpa pengetahuan yang tepat, hanyalah omong kosong.

Knowledge Management System

Mengapa Belum Ada Knowledge Management?

Ketika berada di Fungsi CS IT, ada satu hal yang ingin saya bereskan, yaitu sistem knowlege management-nya. Bukannya belum ada sistem yang bagus, melainkan sistem yang saat ini disediakan kurang bisa mengakomodir operasional harian CS. 

Sistem knowledge management dalam bayangan saya, harus mengakomodir semua "cara" agen dalam belajar dan memahami informasi, yang fleksibel, cepat, dan akurat. Sistem knowledge management yang to-the-point dan menyorot informasi terkini, tautan-tautan penting, dan dokumen yang bisa dicari dalam waktu singkat.

Maka kala itu, dilakukanlah asesmen dengan bantuan para koordinator. Ada 2 item yang perlu dianalisa, yaitu konten dan sistem teknologi. 

Perihal konten, langkah-langkahnya seperti ini: semua agen diminta untuk mengumpulkan dokumen-dokumen yang menjadi pedoman mereka bekerja, diletakkan dalam direktori bersama (shared folder) yang sudah disediakan sebelumnya. Satu direktor untuk satu agen. Lalu team lead dan koordinator stream akan membuka setiap berkas yang sudah diunggah oleh agen, dengan pembagian yang sudah ditentukan. Berkas-berkas tersebut akan ditentukan mana yang berguna dan mana yang tidak, mana yang duplikat dan mana yang unik.

Semua berkas yang dirasa berguna dan unik akan dikumpulkan menjadi satu dan menjadi pengetahuan bersama untuk semua agen. Tidak boleh ada lagi knowledge file di perangkat pribadi agen. Hal ini untuk menghindari perbedaan informasi dan pengetahuan akan suatu produk dan layanan. 

Pusat knowledge file yang sudah ada akan dibuat prosedur bagaimana cara pemutakhiran, pencabutan, dan penambahannya. Sehingga semuanya menjadi standar dan selalu terkini.

Kualitas sistem knowledge management di Fungsi CS akan memengaruhi pemberian layanan kepada pelanggan. Dengan agen yang informatif dan solutif, setiap interaksi dapat memastikan pengalaman baik dan kepuasan pelanggan.

Namun, sayangnya sampai tulisan ini dibuat sistem knowledge management yang diharapkan belum sepenuhnya terwujud.

Pemberian Customer Experience

Kalau kita berbicara pemberian layanan secara global, terdapat satu konsep yang sering dibahas. Bahkan masuk ke topik yang kerap dikompetisikan. Yaitu "customer-centricity". Bagaimana sebuah perusahaan menjadikan para pelanggannya sebagai pusat dari layanan. Bagaimana layanan itu diberikan tidak hanya sesuai "kemauan" perusahaan, tetapi lebih menitikberatkan pada umpan balik dan pengalaman dari pelanggan. Hal ini pula yang melatarbelakangi adanya istilah "customer experience".

Pembahasan awal esai ini sudah mengarah ke sana. Jargon "central (of) solutions" selaku lampu penerang CS --baik sebagai value maupun tindakan nyata; otorisasi; dan sistem knowledge management, adalah hal paling fundamental untuk menunjang peningkatan customer experience. Bisa juga didukung dengan teknologi yang kekinian, seperti omnichannel system, customer relationship management system, implementasi otomasi dan AI, dan banyak lagi. Intinya pelanggan mendapatkan kesan yang baik, entah saat menggunakan layanan yang diberikan atau ketika menghubungi fungsi CS.

Bagi perusahaan yang hanya peduli pada capaian operasional --seperti service level atau uptime rate, dan bukan ke pelanggan, tidak akan bertahan lama. Pelanggan akan perlahan meninggalkan dan beralih ke produk atau layanan lain yang sama-sama bagus, dan memiliki aftersales yang excellent.

Coba bayangkan: bagaimana jika service level tercapai 100%, tidak ada tiket pelaporan yang melebihi durasi yang ditentukan, semuanya "aman" dari sudut pandang internal, tetapi tiba-tiba pendapatan perusahaan menurun secara teratur? Penyebabnya parameter-parameter yang mengarah ke dalam organisasi perusahaan "hijau", sedangkan yang ditemui pelanggan "merah" semua. Pelanggan merasakan kualitas yang tidak sebagus yang diklaim.

Itulah yang disebut watermelon effect. Adanya dua kondisi, dua warna, yaitu merah dan hijau. Ketika KPI (Key Performance Index) internal, seperti SLA selalu tercapai sedangkan ekspektasi pelanggan tidak pernah terpenuhi. Hal inilah yang coba diubah dengan pendekatan customer-centricity.

Pemimpin perusahaan harus mencari pengukuran kinerja yang baru, guna mendapatkan loyalitas dari para pelanggan. Pelanggan yang puas akan merekomendasikan layanan ke teman-temannya. Sebuah marketing "gratis" yang bisa kita dapatkan.

Kita mengenal item KPI yang sudah banyak digunakan, di antaranya NPS (Net Promoter Score) dan CSAT (Customer Satisfaction). Keduanya sudah bagus. Nah, pada tulisan ini, yang ingin saya usulkan untuk diimplementasikan di fungsi CS ialah XLA. XLA, singkatan dari Experience Level Agreement, merupakan "perjanjian" antara perusahaan dan pelanggan untuk mendapatkan pengalaman atas penggunaan layanan. Sehingga yang dihitung bukan durasi penyelesaian tiket-tiket, tetapi ke bagaimana perasaan pelanggan saat tiket-tiket itu berhasil diselesaikan.

Banyak sekali kasus di mana tiket tidak ada yang berstatus "breached SLA" tetapi pelanggan merasa belum puas. Hal tersebut lantaran pelayanan yang diberikan dirasa masih kurang. Selama yang dihitung adalah service level, maka perusahaan atau fungsi CS tentu saja masih "aman" --mendapatkan performance yang "baik". Berbeda jika yang diukur adalah kepuasan pelanggan dan pengalaman secara menyeluruh. Dan itu yang menjadi parameter persetujuan antara perusahaan dan pelanggan.

Maka, supaya bisa menaikkan level pelayanan kita berstandar global, mungkin sudah saatnya kita mengubah paradigma dari service level-based menjadi customer experience-based.

Sustainability

Waktunya Membicarakan Sustainability

Sebelumnya, apa perbedaan continuity dan sustainability (dalam konteks perusahaan)?

Kalau kita membicarakan bagaimana layanan harus selalu ada dan terus menerus bisa diberikan kepada pelanggan, itu namanya "continuity" --atau bahasa Indonesia yang pas ialah "kesinambungan". Maka dari itu perusahaan harus memiliki BCP (Business Continuity Plan). Seperangkat dokumen yang berisi plan A-Z bagaimana supply-chain dan delivery tetap dijalankan.

Sedangkan untuk pembahasan bagaimana layanan harus selalu ada dan terus menerus bisa diberikan kepada pelanggan, dengan tidak merusak lingkungan, sosial, dan parameter lainnya, ini yang disebut "sustainability". Yang dalam bahasa Indonesia sering disebut "keberlanjutan".

Gampangnya, masa iya sebuah layanan bisa tetap kita berikan (continous) tetapi tidak dalam jangka panjang? Mungkin karena layanan kita menghasilkan limbah atau memahan sumber daya alam yang di luar batas.

Sehingga ketika berbicara tentang operasional CS dan konsep customer experience, belum lagi lebih jauh membicarakan otomasi dan kecerdasan buatan, item sustainability tidak boleh alpa. Fungsi CS harus mulai memperhitungkan berbagai parameter yang menjadi fokus sustainability. Bisa terinspirasi dari framework-framework yang sudah ada, seperti ESG (Environmental, Social, Governance), SDG (Sustainable Gevelopment Goals), atau yang sudah dipakai di perusahaan.

Dengan adanya niat tersebut, menjadikan CS fungsi yang bertanggung jawab kepada lingkungan. Tentunya ini merupakan langkah yang baik. Beberapa program sederhana bisa dilakukan, di antaranya: pertama, kampanye sustainability di gerai walk-in, dengan memasang poster-poster digital di TV, yang bisa disimak para pelanggan. Gerai walk-in yang biasanya bagi-bagi souvenir, juga bisa memanfaatkan produk hasil daur ulang dari Fungsi Sustainability. 

Kedua, di kantor CS, membuat kompetisi siapa yang paling sedikit mengeluarkan emisi karbon, parameter yang bisa digunakan yaitu penggunaan listrik, kertas, kendaraan pribadi. Kegiatan tersebut bisa menjadi budaya yang bagus untuk para agen CS.

Ketiga, integrasi program clean desk clear screen (CSCD) sebagai penerapan ISO 27001 dengan pemilahan sampah. Bagaimana bisa? Kata kuncinya di "ruang kerja". Dengan selalu memastikan meja dan ruang CS terjaga keamanannya, kita harus meningkatkan awareness kepada kenyamanan. Dan dalam hal ini adalah pengelolaan sampah. Sampah harian bisa jadi berasal dari bekas makanan atau minuman, dari kertas atau dokumen, dari plastik bungkus, yang semuanya berpotensi mengganggu operasional CS secara tidak langsung. Maka, dengan mindset sustainability, kita harus mulai sadar dengan hal-hal sepele yang ada di sekitar ruang kerja kita.

Selain sudah menjamin keberlanjutan layanan, Fungsi CS yang sehari-harinya berkomunikasi dengan pelanggan juga dapat menjadi sales promotion girl/boy kampanye sustainability perusahaan.

Branding Itu Penting

Di awal tadi disebutkan bahwa ada satu-dua kesalahpahaman yang muncul dalam melihat dan menilai fungsi CS. Tentu saja itu bukan melulu salah orang luar, bisa jadi karena CS sendiri yang kurang mengenalkan dan menyampaikan capaian-capaian yang telah dijalankan. Tak perlu memikirkan klise "Oh fungsi CS ya gitu-gitu aja, semua orang sudah tahu!" Tidak! Nyatanya banyak yang belum tahu. Maka dari itu, wajib bagi CS untuk melakukan branding dan mempublikasikan apa saja hal baik yang ada di dalamnya.

Siapa juga yang akan tahu kalau CS sudah menerapkan Quality Assurance atau implementasi ISO 20000? Siapa yang paham CS telah didukung teknologi omnichannel dan customer relationship management serta optimalisasi pemberian layanan dengan bantuan otomasi?

Maka dari itu, saat saya di CS dulu, branding menjadi fokus utama. Pembuatan video profil, shooting video budaya dan sosialisasi cyber security, juga trademark "CS Corner" sebagai materi publikasi.

Apabila sudah berfokus ke dalam customer experience, barang wajib membantu pelanggan untuk lebih mengenal fungsi CS. Penyampaian apa saja layanan yang bisa diberikan. Informasi life hack yang berguna bagi pelanggan. Dan masih banyak lagi.

Beyond Integrated Customer Experience

Jadi, sebenarnya apa yang dimaksud dengan "beyond integrated customer experience"?

Sebelum melihatnya sebagai framework atau konsep atau bahkan teknis, saya lebih senang jika memahaminya sebagai sebuah mindset atau semangat. Harus dipahami bahwa customer experience menjadi hal utama yang tidak boleh diabaikan begitu saja seperti selama ini. Para team leader, koordinator, dan agent CS perlu mulai untuk mempelajari apa itu customer experience secara lebih mendetail dan menyeluruh. Beberapa poin sudah saya tuliskan di atas dan itu saja tidak cukup. Saya masih perlu banyak belajar. Juga mengajak semua orang yang sekarang sedang memegang amanah di pemberian layanan, untuk bersama-sama mempelajari konsep tersebut.

Kalau sesuai yang tertulis di esai ini, kita bisa memulai dari penentuan jargon atau value. "Central (of) solutions" salah satunya. Lalu kita juga harus mendefinisikan ulang seberapa powerful fungsi CS dalam hal otorisasi, supaya "central (of) solutions" benar-benar tercapai. Plus, didukung dengan sistem knowledge management yang baik. Intinya di internal CS harus dikuatkan secara fundamental.

Selanjutnya, karena sudah berfokus pada CX, maka KPI juga harus ditambahkan penilaiannya dengan penerapan XLA (Experience Level Agreement). Semua ekspektasi, perasaan, pengalaman pelanggan harus disepakati bersama dengan perusahaan. Maka, "customer-centricity" tidak lagi sekadar istilah manis.

Ketiga, setelah internal CS sudah dipastikan profesional dan kepuasan pelanggan telah menjadi indikator keberhasilan, maka sustainability pelengkap yang pas. Wawasan kita perluas. Niat kita tinggikan. Setiap layanan yang kita berikan tidak hanya bermanfaat bagi sesama manusia, tetapi juga untuk lingkungan. Sebagai bekal kita untuk mempertanggungjawabkan peran kita sebagai khalifah di bumi.

Beyond integrated customer experience, tidak hanya menyoal mengintegrasikan semua fungsi yang ada di dalam perusahaan atau departemen (layer 0 sampai layer 2, front-office dan back-office, CS dan service owner), tidak pula terbatas pada integrasi teknologi (multi channel dan automation dan artificial intelligence), tetapi lebih mulia daripada itu semua. Bagaimana fungsi CS ini bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada perusahaan, masyarakat, dan lingkungan.

Jangan pernah membatasi fungsi Customer Services hanya itu-itu saja. Semua yang berhubungan dengan kata "customer" dan "experience", apalagi "integrated" tidak akan pernah ada batasnya. Lampauilah semua batasan itu.

“Did you ever think that perhaps our minds are delicately calibrated between the known and the unknown? That our souls need the mysteries of night and the clarity of day?”― Dave Eggers, The Circle

Kamis, 25 Desember 2025

Membaca 100 Buku dalam Setahun


 Merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa. Itulah kesadaran yang muncul kala "berhasil" menghabiskan  lebih dari 100 buku di tahun ini --tahun 2025. Dari berbagai informasi yang sudah diperoleh, malah muncul segudang pertanyaan baru dan keingintahuan tanpa batas. Tampaknya masih banyak misteri yang belum terungkap. Apalagi setelah melihat tumpukan buku di dalam kamar, yang belum tuntas dibaca, bahkan ada yang tak tersentuh, tersimpan rapi plastikan.

Tentang filsafat, membaca kembali topik eksistensialisme Jean-Paul Sartre, justru ingin berkenalan dengan buku-buku Albert Camus. Sebab pada buku Sartre itu, nama sang penulis "The Myth of Sisyphus" kerap disebut. Mengenai politik, buku "Paradoks Demokrasi" karya Chantal Mouffle berisi istilah-istilah baru yang berulang kali harus saya temukan artinya di kamus atau mesin pencari. Termasuk hal-hal yang dekat dengan kita, tema perbedaan kelas, polarisasi paham "kanan" dan "kiri" yang menyebabkan sering merenung, terlampau banyak informasi alpa dari diri saya. Belum lagi menyoal agama-agama di dunia.

Kesemuanya itu menjadikan pribadi ini kecil, menyadarkan betapa sungguh melimpah ilmu yang disebar Allah subhanahuwata'ala di jagat raya. Maka memang sampai diibaratkan tak akan cukup air di samudera sebagai tinta menuliskannya. Demikian kualitas dari membaca buku. Sensasi menghibahkan detak-detik hidup bersama buku.

Sedangkan pada sisi kuantitas --jumlah judul buku, dibandingkan tahun sebelumnya, ada peningkatan. Tahun lalu saya sanggup menyelesaikan sekitar 85 buku. Dan agaknya masih sangat kurang. Lalu terbesit pertanyaan apakah saya mampu melampauinya. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa tahun ini harus lebih banyak lagi. 

Namun, kelihatannya cukup, tahun depan saya ingin mencoba pendekatan baru. Rencananya satu bulan hanya baca satu buku, tetapi dipelajari dan dipahami betul-betul secara mendalam. Tidak seperti tahun ini yang rasanya mirip dikejar setoran, wajib mencapai target.

Bagaimana cara mengetahui berapa keseluruhan buku yang sudah dibaca? Jelas ada berbagai metode. Kalau saya, selama ini memanfaatkan Goodreads, tepatnya berpartisipasi dalam Goodreads Reading Challenge. Tantangan yang saya ikuti dari tahun 2015. Ya, selama 10 tahun ini saya rajin menjalaninya, meski target buku berbeda tiap tahunnya. Realisasinya pun bermacam-macam. Kadang melebihi, tak jarang pula jauh di bawah sasaran.

Goodreads Reading Challenge akan membantu kita demi meningkatkan jumlah bacaan. Kita akan terpacu untuk mendapatkan berbagai "achievement" yang disiapkan. Selain memanfaatkan tantangan itu, ada beberapa tips yang hendak saya bagikan. Siapa tahu Anda sekalian ingin memulai hobi baru.


Pertama, letakkan buku-buku di banyak tempat sehingga mudah dijangkau. Di sebelah kasur tidur, di atas meja makan, di ruang kerja, di mana saja. Tak masalah jika dalam satu waktu, kita membaca 3-4 judul buku secara beriringan. Dengan membuat buku gampang diraih, tentunya akan mempercepat kita saat keinginan membaca buku itu muncul.

Hal ini juga bisa diterapkan ketika kita bepergian. Bawalah buku, sebab buku sebaik-baiknya teman perjalanan. Kita mesti menormalisasi orang membaca buku di dalam kereta, pesawat, atau bus. Tidak perlu mencibir atau mengganggap kegiatan itu terlalu "wah". Padahal ya membaca buku itu "biasa-biasa saja".

Apabila masih belum berani lantaran sungkan menikmati buku fisik di tempat umum, kita bisa memanfaatkan e-book atau buku elektronik/digital. Saya biasanya menggunakan Google Play Store. Aplikasi ini berisi banyak buku bermutu dan jika kita beruntung menemukan buku-buku gratis.

Kedua, kurangi screen time sia-sia. Kurangi melihat gawai hanya untuk menggulir layar, menikmati video-video singkat. Terlalu berlebihan dan kecanduan hal itu menyebabkan kita susah fokus dan rentan terkena brain-rot. Dan buku adalah kebalikannya. Melalui bacaan, isi kepala akan menjadi aktif. Berbagai dialektika, pertentangan, diskusi yang terjadi di dalam kepala, niscaya dapat menajamkan fungsi otak. Lama-lama Anda akan terbiasa untuk menjauhkan HP atau tablet dan mendekatkan buku-buku. Atau ya kalau sesulit itu, bacalah e-book.

Ketiga, luangkan waktu membaca di pagi hari. Terdapat adagium, barangsiapa bisa menaklukan waktu pagi, maka ia mampu memenangkan seluruh harinya. Waktu luang yang kadang kita sepelekan adalah waktu pagi, bisa jadi selepas salat subuh dan mendaras Al-Qur'an. Daripada melihat konten-konten tidak jelas, lebih baik mengisi kepala dengan bacaan berkualitas. Selain menambah lembar yang dibaca, otak segar kita membutuhkan nutrisi. Usul saya, kalau Anda baru memulai aktivitas ini, bacalah fiksi.

Ketiga tips di atas sangat sederhana dan mudah diimplementasikan. Mudah kok! Setelahnya Anda sanggup meningkatkan jumlah buku yang dibaca. Sambil perlahan-lahan, cobalah untuk melatih minat dan daya baca. Seberapa kuat membaca buku, berapa lama durasi yang dibutuhkan sebelum kita terdistraksi, itulah yang dinamakan daya baca. Walaupun faktor buku yang dibaca juga memengaruhi. Tentu saja berbeda jika kita membaca buku dengan topik yang digemari, dengan yang kita enggan mempelajarinya.

Membaca buku yang kita senangi, akan membawa kita ke dalam flow. Kondisi saat pikiran begitu fokus dan menikmati setiap kata-paragraf buku. Tak sengaja lembar demi lembar dihabiskan. Dan memang tak semua buku bagus sebagai page-turner

Intinya, temukan satu buku untuk membuat Anda jatuh cinta membaca, menjadi seorang bibliofil.

Kembali seperti telah dituliskan di atas, selepas terbiasa melahap buku-buku, beberapa manfaat dan hikmah akan diraih. Barang tentu apa yang saya sebutkan di bawah ini belum semuanya. Barangkali Anda dapat menyebutkan lebih banyak, sebab sejatinya Anda adalah orang yang mudah belajar, hanya saja selama ini belum mempunyai minat membaca buku.

Manfaat pertama yang dirasakan sehabis membaca ratusan buku ialah saya memiliki banyak topik obrolan. Basa-basi tanpa perlu menanyakan hal-hal pribadi contohnya kapan nikah, kapan punya anak, dan kapan-kapan lainnya. Ini sudah tahun 2025, Rek! Bervariasi sekali materi untuk memulai obrolan di era modern ini. 

Selain itu, bahan bercanda juga semakin melimpah. Mungkin benar ada yang bilang kalau pelawak itu orang yang genius karena bisa meramu naskah candaan dari berbagai sumber. Dan, topik cabul atau seksis bukan salah satunya. Malahan menurut saya tema itu serendah-rendahnya candaan. Setingkat dengan candaan yang bersifat meremehkan (abusing) dan bullying. Ah, andai semua orang baca buku berkualitas sampai humor cabul dan perundungan bisa lenyap dari atas muka bumi.

Manfaat kedua, saya bisa lebih memahami orang lain. Bisa berempati dan bersimpati. Hal ini didapatkan dari bacaan fiksi (novel dan cerpen). Fiksi akan memaksa kita menjelma tokoh utama atau minimal pemantau tokoh utama dari kisah yang kita baca. Kita dituntut untuk bisa memahami alur cerita, melalui perasaan tokoh-tokoh dan apa yang sedang diperbuatnya. Darinyalah juga kita bisa memperoleh banyak pemikiran, sehingga otak kita akan mekar, hati kita akan jembar.

Kita tidak akan mudah membahas aib orang (gibah/gosip); kita lebih berhati-hati dalam menilai perilaku orang lain; kita jadi bisa menaruh kaki kita di sepatu mereka. Bukan berarti tidak tegas, melainkan kita lebih bijaksana dalam merespon segala sesuatu. Saya membayangkan, apabila memang kampung halaman kita surga, maka di dunia ini kita dituntut untuk melatih jiwa supaya bisa layak menjadi penghuninya. Yang santun, bijaksana, pemaaf. Tanpa keraguan, ini adalah pengingat bagi diri saya pribadi.

Manfaat ketiga, otak terbiasa untuk merelasikan banyak hal yang terlihat acak dan tidak menyambung. Karena dilatih membaca 4-5 buku secara beriringan, yang tidak sengaja dipilih --ternyata memiliki kandungan isi yang saling berkelindan, saya bisa menemukan kesamaan dari buku-buku yang dibaca tersebut. Rasanya luar biasa jika kita dapat mengambil satu garis lurus dari bab-bab yang dibaca, buku yang berbeda-beda. Seakan-akan kita "berjodoh" dengan buku-buku itu, apalagi yang sangat related atas kehidupan yang dihadapi.

Hikmah lainnya. Buku ibarat sebuah jendela, untuk melihat ke dalam, rumah hakikat diri dan melihat ke luar, luasnya kebijaksanaan. Keduanya adalah sarana lebih mengenal Tuhan Yang Maha Esa, Allah subhanahu wa ta'ala. Apa pun buku yang dibaca, baik fiksi maupun non-fiksi. Baik yang secara eksplisit mengajarkan kepada 'jalan' untuk mendekat kepada-Nya, maupun yang implisit atau sama sekali tak membahas tema itu, yang mengharuskan kita mencari 'jalan' sendiri melalui tiap kata yang dibaca. 

Berbagai pembahasan yang ada di dalam buku, apabila kita melihatnya dengan lebih jernih, niscaya terselip hikmah-hikmah yang dapat mengantarkan kita kepada kehambaan. Oleh karena itu, kita tidak bisa lepas dari buku. Termasuk Al-Qur' an, tentunya.

Syahdan, membaca 100 buku di tahun ini mengorbankan banyak hal. Waktu, tenaga, dan biaya. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang mana saya selalu aktif dalam kepanitiaan, tahun ini nihil. Waktu luang saya lebih banyak, yang akhirnya mau tak mau dialokasikan khusus kepada buku.

Tenaga saya juga cukup terserap guna membersamai buku. Duduk lama, mata dipaksa terus fokus, pikiran stres merupakan konsekuensi yang saya ambil. Syukurnya dibarengi dengan kegiatan lari pagi-sore, meski tidak seintens dulu.

Lalu, perihal biaya. Tak perlu ditanyakan lagi. Sudah banyak ongkos yang saya keluarkan hanya untuk memenuhi target 100 buku. Saya menjadi konsumtif. Jika diberi pertanyaan, mengapa tidak pinjam saja di perpustakaan? Jawabannya, lantaran saya ingin mengoleksi buku bagus. Buku yang bisa saya baca berulang kali di masa mendatang. Perasaan bahagia saat memiliki (sendiri) buku-buku berkualitas. Boleh dong hedon dalam hal ini?

Namun, terlepas dari pengorbanan-pengorbanan di atas, menamatkan 100 buku sangat sepadan dengan bermacam hal positif yang saya dapatkan. Setidaknya, di tahun ini, atau bahkan dalam hidup saya, salah satu target saya bisa tercapai.

Terlebih, dengan buku saya bisa menjadi diri saya sendiri.

"Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas." — Mohammad Hatta

Sabtu, 31 Mei 2025

Filosofi Teras Masjid

Setiap zaman menawarkan tantangannya tersendiri bagi manusia. Ada kalanya manusia harus bertahan hidup dengan berburu dan melawan hewan-hewan liar. Ada waktunya manusia perlu memutar otak, berinovasi dalam hal penulisan, guna mencatat hasil pertanian. Ada saatnya manusia wajib menyesuaikan diri dengan revolusi industri. Dan sekarang masanya, kita, sebagai manusia modern kudu mengendalikan "musuh" baru yang disebut keterbukaan informasi.

Masa ketika informasi apa pun dapat kita peroleh dengan mudah dan cepat. Informasi yang bisa jadi sangat penting bagi kita, tetapi juga amat mungkin sama sekali tak kita butuhkan. Informasi dengan bobot, dari yang berat sampai yang receh, konten-konten yang menghabiskan waktu senggang kita. Konten-konten yang menemani sarapan, makan siang, makan malam kita.

Apakah itu semua buruk? Apakah itu semua baik?

Untuk banyak orang, keterbukaan informasi dan banjir konten mampu membuka beragam potensi dan kesempatan. Ada yang bisa menghasilkan uang darinya, ada yang dapat meneguk ilmu darinya, ada yang termotivasi olehnya, ada yang mencoba hal baru, hobi baru, kegiatan baru. Melimpah sekali!

Namun, ada juga aneka mudarat yang ditemui. Sudah pusing dengan masalah pekerjaan, kuliah, sekolah, bermasyarakat, berkeluarga, kita malah menambah beban pikiran mengurusi segala apa yang ada di internet. Gosip-gosip tidak perlu di media sosial. Penuh sesak informasi yang akhirnya melahirkan virus bernama "kecemasan".

Instagram, X, Facebook, WhatsApp, atau apa pun namanya, tempat kita (berniat) melarikan diri dari realita, malah menghadapkan kepada banyak kenyataan yang lebih parah.

Rasa cemas itu, kekhawatiran, iri dengki, cemburu, overthinking, dan lain-lain, daftar gangguan mental dan perasaan yang diakibatkan terlalu banyak berselancar di media sosial. Apakah akan terus menerus kita biarkan terjadi? Sungguh?

Adakah cara untuk benar-benar melarikan diri "darinya"? Adakah sarana yang memberikan penyembuhan, sekaligus mendekatkan diri kepada Tuhan Semesta Alam?

Di dalam derasnya arus informasi, kala problematika yang kian hari kian menumpuk, mungkin yang kita butuhkan saat ini hanyalah jeda, sebuah istirahat sederhana. Sesederhana melamun dan menikmati hembusan angin segar di teras masjid yang ubinnya dingin.

###

Terkait "teras masjid", masih segar dalam ingatan, momen ketika saya dan teman-teman duduk-duduk di teras masjid SMA. Sudah menjadi agenda rutin kami di saat jam istirahat dan sepulang sekolah. Kegiatan yang diisi dengan berbagai obrolan sebagai bentuk eksistensi dan ber-filosofi. 

Contohnya: anak-anak kerohanian Islam (rohis) memperdebatkan kapan waktu idul adha; siswa jurusan IPA menggunjing guru-guru matematika killer beserta rating-nya; sedangkan siswa dari jurusan IPS penghobi sepak bola membahas klasemen liga inggris. Semuanya diperbincangkan di serambi masjid dengan antusiasnya masing-masing. Pertukaran informasi yang sudah begitu deras.

Bagi Anda yang muslim, apakah pernah merasakan pengalaman serupa? Bagaimana rasanya? Dari hal kecil itu, pelajaran apa saja yang didapatkan sebagai bekal hidup?

Kedamaian yang didapatkan saat duduk santai dengan kesejukan teras masjid, apakah bisa kau panggil kembali (sebagai anchoring--dalam konteks NLP [Neuro-Linguistic Programming] mengacu pada pengasosiasian suatu stimulus terhadap pengalaman/ingatan)?

Perasaan penuh dengan keimanan karena berada di rumah Allah ta'ala, apakah masih sering menghinggapi diri?

Mari temani saya untuk membahasnya.

Sedangkan bagi Anda yang tidak pernah mengalami hal tersebut, tidak apa-apa, tulisan ini tetap bisa Anda baca sebagai bacaan yang penuh dengan hikmah dan perenungan. Lagipula, filosofi teras masjid yang tertulis di sini tidak melulu menyoal, secara literal, "teras masjid". Lebih kepada bagaimana "filosofi teras masjid", yang akan saya bahas, sebagai opsi dan pilihan solusi yang ditawarkan, sama halnya seperti saat kita memilih filosofi teras (stoikisme). Juga sebagai salah satu cara menyelesaikan permasalahan yang diangkat di awal tulisan. Untuk mengatasi kegelisahan yang terjadi di era modern ini.

###

Sebelum membahasnya, saya ingin menyampaikan bahwa apa yang tertulis pada esai ini merupakan pengalaman pribadi dan hikmah yang diharapkan dapat menjadi manfaat bagi Rekan-rekan semua. Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, kan? Dan setiap dari kita harus mampu beradaptasi menghadapinya. Iya, anggap saja ini salah satu cara saya untuk menyelesaikan permasalahan was-was yang juga saya temui. Yaitu dengan menulis.

Ide dari tulisan ini menyembul secara spontan gara-gara momen menunggu sepiring ketoprak selesai dibuat oleh seorang abang di trotoar. Ketika dua orang yang juga menunggu, berbicara dengan seru sambil terus menerus menambahkan kata (maaf) "jancok" dengan logat ngapak-nya di akhir kalimat. Bukannya risih, tetapi saya merasa terganggu sebab momen menunggu ketoprak biasanya saya gunakan untuk membaca e-book.

Karena kita hanya bisa mengendalikan apa yang bisa dikontrol, salah satunya respon kita terhadap suatu kejadian, maka alih-alih dongkol, saya memilih untuk: menutup aplikasi PlayBook dan membuka aplikasi Quran Online. Membaca Al-Qur.'an di samping gerobak ketoprak dan di antara para pembeli, merupakan keputusan yang tepat. Saya merasakan ketenangan.

Setelah itu, di perjalanan menuju rumah indekos, munculah ide menulis "Filosofi Teras Masjid". Ya, ya, mungkin saya terinspirasi oleh terma "filosofi teras" atau stoikisme, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya.

Filosofi teras masjid, akan banyak menawarkan gagasan guna menyelesaikan permasalahan diri yang sederhana sampai berat, terkhusus terkait mental dan pikiran, melalui pendekatan islami. Di tengah tingginya minat anak muda dalam hal filosofi, yang bertujuan menemukan hakikat hidup dan kebijaksanaan. Sebagai seorang muslim saya tertantang untuk membahasnya.

Apakah filosofi atau filsafat itu berbeda dengan agama? Dalam beberapa hal keduanya sama, tetapi dalam hal yang lain memiliki perbedaan. Filsafat barat yang mengutamakan metode dan kerangka berpikir ketat, yang mengeluarkan hasil yang bisa jadi tidak akan cocok dengan agama Islam. Kebebasan tanpa batas dirasa tidak senafas dengan definisi sikap pasrah atau berserah diri kepada Tuhan ala Islam.

Filosofi timur yang lebih mengedepankan hasil, capaian dari berpikir yaitu kebijaksanaan, mungkin saja akan sejalan dengan Islam. Pembahasan terkait ini mungkin akan kita bahas di lain waktu. Cukuplah dari 2 paragraf ini, kita bisa menyimpulkan bahwa filosofi itu hakikatnya bersifat netral. Kita bisa menggunakan semangat ber-filosofi guna menemukan banyak kearifan dalam hidup.

Jenis filosofi yang sedang tren pula di kalangan anak muda ialah filosofi teras atau stoikisme. Sebuah paham filsafat yang menekankan pentingnya ketenangan dan ketahanan batin diri dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Anak muda tentu saja langsung klop dengan stoikisme. Buku-buku yang membahasnya laris terjual.

Stoikisme "terbukti" banyak memberikan manfaat bagi semua kalangan karena sifatnya yang mudah dipahami dan praktis. Terlebih dengan tantangan modernisasi keterbukaan informasi ini. Praktik dan laku stoikisme dapat diimplementasikan saat berbagai persoalan mutakhir muncul. Seperti yang dibahas di awal, bahwa kecemasan, overthinking, iri dengki, adalah produk dari liarnya pikiran dan keikutsertaan kita. Bukankah lebih baik kita bisa lebih bijak menyikapi semuanya?

Maka itulah filosofi teras menyediakan solusi. Sebutlah seperti dikotomi kontrol, hidup sesuai alam, dan amor fati. Apa yang tidak bisa kita kontrol, baiknya tidak perlu terlalu kita ambil pusing. Sebisa mungkin kita mengalir sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Dan apabila suratan takdir sudah terjadi, baiknya kita syukuri dan nikmati. 

Semuanya itu kan fitrah manusia? Dan tidak ada yang baru, jika kita renungi. Sehingga stoikisme hanyalah sebuah teori untuk membantu kita dalam mengingat siapa diri kita sesungguhnya.

Lalu, apa hubungannya dengan teras masjid? Baik. Jadinya, apakah Anda termasuk orang yang pernah merasakan bersantai di serambi masjid atau bukan? Tidak jadi soal!

###

Filosofi. Teras. Masjid.

Saya akan membuatnya mudah dipahami. Analogi yang digunakan juga sederhana. 

Ada ribuan, bahkan mungkin jutaan masjid yang ada di negeri ini. Kita patut bersyukur akan hal tersebut. Semua masjid itu memiliki kesamaan. Selain adanya tempat untuk imam, ruang utama salat berjamaah, dan tempat wudu; semuanya pasti mempunyai satu daerah, yang menjadi "penyambut" setiap orang yang datang. Yaitu teras masjid.

Seperti sudah menjadi kesepakatan bersama, atau jangan-jangan kebutuhan, setelah lelah di perjalanan, para musafir akan mencari masjid. Para siswa yang penat dengan pelajaran berbondong-bondong ke masjid. Para pekerja dengan tugas-tugas yang selesai dikerjakan juga tak kalah rutin ke masjid. Dengan mendatanginya, sesederhana untuk melepas lelah. Duduk-duduk di bawah naungan atap masjid, di atas ubin dingin, tertabrak lembut oleh angin semilir. Kegiatan favorit sembari menunggu waktu salat tiba.

Tentu saja apa pun bisa dilakukan di teras masjid. Berbincang seperti yang saya lakukan bersama teman-teman SMA, membicarakan berbagai hal (syukur-syukur hal yang baik), berzikir, semua kegiatan mubah, untuk mengisi detak-detik sampai sang muazin melafalkan azan.

Teras masjid yang "berfungsi" sebagai tempat pertama kali menyambut para jamaah. Tempat yang menyejukkan. Tempat yang melegakan pikiran. Tapi, apa yang benar-benar membuatnya demikian?

Jawabannya tidak lain adalah keimanan. Iya, keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Dengan filosofi teras masjid, saya mengajak kepada diri saya sendiri, yang alpa, yang papa, yang daif, yang fakir ini, juga kepada Rekan-rekan semua, untuk selalu memperbarui keimanan, dan ketakwaan. Semua rutinitas, yang menyebabkan kepala penuh dan stres; semua hubungan manusia, yang melelahkan dan diliputi prasangka buruk; semua permasalahan yang dianggap berat, hingga keluh kesah yang selalu muncul; untuk diserahkan urusannya kepada Al-Muhaimin, Allah yang Maha Mengatur.

Bagaimana caranya? Dengan rajin mengunjungi (teras) masjid, dan memasukinya. Memasuki rumah Allah. Memasuki kehendak Allah ta'ala.

Di awal tulisan ini, kita telah menguraikan bahwa setiap zaman memiliki tantangannya masing-masing. Di era ketika teknologi sudah amat sangat canggih, di mana kecerdasan buatan sudah menjadi perkakas sehari-hari, sudah seharusnya kita senantiasa kembali kepada-Nya. Mengingati bahwa kita ini hanyalah seorang hamba, abdi.

Berbagai kesibukan yang membutakan kita dan nafsu dunia yang melelahkan, baiknya kita tinggalkan sejenak untuk "mendatangi teras masjid", yang menyejukkan tersebut. Kita isi ulang daya keimanan dan ketakwaan kita.

Mengalami was-was dan cemas: ambil wudu, baca Al-Qur'an.

Merasakan dada sempit: bersujudlah!

Merasa tak bermanfaat: ingatlah kematian, dan syukuri keimanan kita.

Memiliki banyak ambisi: sedekah. Tunaikan zakat.

Nafsu memuncaki diri: gunakan puasa sebagai perisai.

Allah yang Maha Baik tidak mungkin mewajibkan segala sesuatu tanpa adanya manfaat bagi manusia. Sebab, Dialah Maha Pencipta, yang mengetahui secara persis apa yang dibutuhkan oleh makhluk selemah kita. Dia juga yang menjadikan kita khalifah di bumi, Dia pula yang menyediakan solusi atas segala permasalahan kita. Hubungan dengan-Nya harus terus menerus kita jaga dan tingkatkan kualitasnya.

Pembuatan istilah "filosofi teras masjid" bukan untuk mengada-adakan hal baru, tetapi hanya sekadar cara untuk bisa memudahkan saya dan kita (umumnya) agar bisa selalu menautkan hati ke masjid. Menjadikan azan dan salat dan ibadah lainnya sebagai jeda dari rutinitas yang mungkin melalaikan kita.

Islam berarti kepasrahan dan pengabdian total kepada Allah subhanahu wa ta'ala, Rabb semesta alam. Seberapa besar pun masalah kita, masih ada Allah yang Maha Besar. Jika bukan Dia yang menolong kita, kepada siapa lagi diri akan memohon bantuan? Jika solusi akan permasalahan kita sehari-hari sudah ada di Islam, masihkah kita mencarinya di luar agama sempurna ini?

Jumat, 30 Mei 2025

Integritas Sebagai Penjaga

 


Setelah selesai mengerjakan soal-soal ujian nasional (UN) SMA, dengan rasa syukur yang memenuhi dada, saya berjalan menuju masjid sekolah. Meninggalkan berbagai opini dan anggapan teman-teman sekelas, teman-teman seangkatan yang lain. Toh, mereka juga tidak akan memedulikan opini dan anggapan saya tentang pelaksanaan UN, tentang pilihan mereka dalam mempersiapkannya.

Sudah menjadi rahasia umum, pelaksanaan UN di masa lalu dipenuhi dengan berbagai praktik (ekses) tak patut. Salah satunya, jual beli kunci jawaban. Kegiatan yang sepertinya diketahui oleh semua orang kalau perbuatan itu tercela, tidak jujur, tetapi tidak bisa dihindari. Memang tak mudah menghindarinya. Mayoritas teman SMA memilih sedikit berlaku curang, guna bisa berbahagia di waktu kelulusan. Lagi pula, kegiatan sontek-menyontek selama ujian dianggap hal yang lumrah, biasa terjadi di dalam dunia pendidikan (bagi sebagian dari mereka, kita).

Pertanyaanya, mengapa saya berbeda? Mengapa saya memilih untuk tidak membeli kunci jawaban, dan tetap teguh tidak berbagi dan saling bertukar jawaban selama ujian berlangsung? Sebuah keputusan yang sudah saya tetapkan sejak awal masuk SMA. Yaitu tidak akan berlaku curang di semua ujian, baik evaluasi bulanan, yang bersifat insidental, maupun semesteran, tengah & akhir semester. Sebisa mungkin semuanya.

Mungkin saja hal itu disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa di antaranya akan saya bahas pada esai ini. Sebagai hikmah dan iling-ilingan yang sepertinya sangat saya butuhkan saat ini. 

Pertama, di kelas 3 SMP, praktik jual beli kunci jawaban pun telah ada. Beberapa teman SMP saya, yang memiliki akses ke penjualnya, "memanfaatkan kesempatan" tersebut. Dengan pikiran yang masih polos, dengan bangganya saya ikut membahas jawaban-jawaban yang dibagikan oleh teman-teman. Nomor satu jawabannya 'A', nomor dua 'B', dan seterusnya. Begitulah obrolan kami. 

Setelah kegiatan UN SMP selesai, saya merasakan ketidaknyamanan di dalam dada. Apa yang akhirnya saya simpulkan, sesuai dengan hadis nabi, dosa akan menyebabkan hati gelisah. Perasaan tidak puas dan penyesalan. Juga perenungan tentang dampak dari ketidakjujuran tersebut di masa depan. Apakah setelah itu, semua tindak-tanduk masih dapat berkah? Ataukah, lantaran kelulusan yang dicederai kebohongan, setiap perbuatan akan jauh dari rido-Nya?

Hatta saya putuskan bertindak jujur selama ulangan, ujian yang menentukan hasil selanjutnya. Sebab, sesuai dengan tujuannya, apabila kita berhasil lulus, berarti kita memang telah layak naik level, bukan?

 Kedua, memilih kerohanian Islam (rohis) sebagai kegiatan ekstrakurikuler selama SMA. Sepertinya memang berkelindan, keputusan untuk menjadi lebih baik dan menjadikan rohis kesibukan saat putih abu-abu. Ya, seperti kita ketahui, rohis identik tentang hal-hal yang bersifat "terpuji". Ber-amar makruf nahi mungkar. Dakwah Islam. Saling menasihati dalam kebaikan. Sebuah ekosistem dan environment yang mendukung kejujuran ketika pelaksanaan ujian.

Sampai pada akhirnya, rekan-rekan rohis memercayakan posisi ketua umum kepada saya. Sebuah amanah yang teramat berat untuk dipegang. Khususnya dalam hal keteladanan. Bagaimana saya, sebisa mungkin bisa menjaga muruah rohis, dan ujian itu muncul ketika memasuki semester 2 kelas 3 SMA. Teman-teman kelas mulai membahas kunci jawaban UN.

Dan saya berlepas diri dari mereka. Walaupun, harap dicatat, saya tidak pernah merasa lebih baik dari mereka, apalagi lebih alim, lebih bersih, lebih suci. Hanya ingin memenuhi komitmen yang sudah dibuat.

Ketiga, sebagai pemacu diri, yaitu cerita yang pernah disampaikan oleh Bapak. Sebuah cerita yang menelurkan perasaan bangga kepada beliau. Kisah yang membangkitkan rasa syukur karena kejujuran itu telah diwariskannya.

Kurang lebih begini ceritanya: sewaktu Bapak kelas 6 SD, saat akan masuk ke jenjang SMP, ketika beliau akan menghadapi ujian masuk salah satu sekolah negeri. Beliau diberitahu oleh ayahnya (Kakek saya), jika beliau tidak perlu repot-repot mengerjakan soal ujian, sebab Kakek sudah menyiapkan segala sesuatunya. Maksudnya, Kakek saya yang terbilang keluarga berpunya itu telah berkolusi dengan pihak sekolah untuk meloloskan Bapak. Tindakan tersebut tidak lain supaya semua anak Kakek bisa bersekolah dengan layak.

Namun, tentu saja pikiran Bapak berbeda. Beliau jelas menentang rencana itu. Lebih baik bersekolah di sekolah swasta daripada negeri tetapi dengan ketidakjujuran. Sehingga ia mengacau saat pelaksanaan tes masuk SMP. Dan hasilnya memang tidak jauh dari ekspektasi, beliau tidak lolos, menyebabkan (mau tidak mau) harus meneruskan di salah satu sekolah swasta. 

Kejadian tersebut akhirnya menjadi pelajaran bagi Bapak dan Kakek, ketika kelas 3 SMP dan mengikuti ujian masuk SMK, Bapak berjanji akan mengerjakan soal dengan sebaik-baiknya. Ia yakin mampu lolos tanpa "bantuan" Kakek. Dan benar saja, sebuah hadiah raket tenis didapatkannya karena telah berhasil diterima di sebuah SMK Negeri dengan jujur.

Sewaktu mendengarkan ceritanya, saya hampir meneteskan air mata bangga. Kisahnya diceritakan pas kelas 3 SMA, setelah saya selama 2,5 tahun memilih "kejujuran". Inspirasi yang masih terkenang hingga sekarang.

Begitulah, orang tua sangat berperan dalam membentuk karakter seseorang. Bagi saya, tak hanya Bapak, Ibuk juga memiliki andil besar. Melalui keteladanan dan penanaman nilai-nilai Islam, tumbuhlah saya yang seperti sekarang. Doa terbaik untuk mereka berdua.

Kembali ke cerita awal esai ini. Apakah dengan kejujuran yang saya gigit dengan gigi geraham setengah mati itu, mengantarkan kepada kebahagiaan? Apakah saya lulus SMA sesuai dengan harapan?

Selepas pengumuman UN dan kelulusan SMA dan hasil SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jalur undangan, setelah saya mengetahui bahwa: dinyatakan lulus SMA, nilai UN begitu pas-pasan, dan tidak diterima di kampus; saya menangis.

Air mata kekecewaan tidak tertahankan.

Apakah peribahasa wong jujur ajur--orang yang jujur akan hancur, itu benar?

Apakah pilihan saya untuk mengerjakan 100% soal UN secara mandiri itu sia-sia?

Apakah level saya memang hanya "sebatas" ini? Seorang siswa yang selama 3 tahun (6 semester) selalu mendapatkan ranking 1 di kelas, menjadi juara kelas, untuk tidak masuk ke daftar 10 besar nilai UN tertinggi di akhir SMA?

Air mata kekecewaan itu memang tidak bisa dibendung, tapi apakah saya menyerah?

Tidak!

Sore itu, saya menghubungi salah satu teman dan mengajaknya ke toko buku, untuk membeli buku-buku persiapan seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Saya bertekad akan masuk ke kampus negeri, dengan tetap menjaga kejujuran. Bukankah memang ujian sesungguhnya baru saja dimulai? Semua siswa mungkin bisa lolos UN, tetapi tidak semuanya akan berhasil masuk ke jenjang selanjutnya. Ada banyak pilihan tes masuk perguruan tinggi, begitu pula ada banyak yang tidak lolos.

Singkat cerita, saya diterima di salah satu politeknik negeri di kota kecil saya. Menjadi mahasiwa. Menyandang predikat sebagai seorang agen perubahan. Sebuah tapakan pertama menuju berbagai capaian di dalam hidup. Sebuah awalan dari banyak pengalaman yang saya tanam-panen hikmahnya. Sebuah langkah pertama, untuk berlari, mencapai berkilo-kilometer jalan panjang.

Dan tanpa ada penyesalan sedikit pun.

Apakah semua prestasi itu didapatkan masih dengan kejujuran? Tentu saja, semoga!

Bahkan jauh sebelum mengenal satu kata, sebagai pemandu dan penjaga, nilai itu sudah terinternalisasi di dalam diri.

Kata itu adalah: integritas!

Integritas itu berarti jujur dalam hal moral, kebaikan; utuh; mengatakan apa yang dilakukan, melakukan apa yang dikatakan. Baca esai lainnya bertema integritas: Integrasi Akal Sehat. 

Saya merasakan kecocokan dengan kata ini, pas saat pertama kali menemukan hakikat maknanya. Mungkin saja karena selama tumbuh, selama pencarian jati diri, kejujuran-lah yang menjadi pelita. Sebuah penerang untuk melewati jalan remang, lebih-lebih gelap.

Kejujuran adalah pintu masuk ke dalam sebuah integritas. Integritas, saya yakin, merupakan salah satu kunci kebijaksanaan. Sebuah tujuan & cita-cita tertinggi yang ingin diraih. Sebab saya meyakini, surga dan pertemuan dengan-Nya nantinya akan dipenuhi dengan kebijaksanaan.

Maka, melalui tulisan ini, saya berdoa supaya integritas selalu menjadi penjaga. Penjaga diri dengan pekerjaan yang sekarang, di tengah-tengah kondisi negeri yang seperti ini, di waktu-waktu mendekati akhir zaman. Semoga dengan integritas, memastikan setiap langkah kita berada di jalan yang benar, meskipun menghadapi godaan dan tekanan dari lingkungan sekitar. Semoga! Lahaula wala quwwata illa billah hil aliyil adzim.

---

Catatan akhir:

Setelah lebih dari 10 tahun menyimpan kenangan tentang jual beli kunci jawaban UN, akhirnya saya memutuskan untuk menulis tentangnya. Semata-mata saya ingin mengulas hikmah yang didapatkan dari momen itu hingga hari ini. Saya yakin, teman-teman SMA saya yang dulu membeli kunci jawaban UN, tidak ada maksud lain selain untuk membahagiakan kedua orang tua dengan lulus SMA. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Tetapi tidak akan pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki keadaan. Semua yang dulunya berbuat curang, bisa jadi sekarang menjadi orang yang sangat istiqomah menjalankan kebaikan-kebaikan, berbuat banyak manfaat bagi orang lain.

Sabtu, 24 Mei 2025

Sang Muazin

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar

Asyhadu allaa illaaha illallaah
Asyhadu allaa illaaha illallaah

Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah

Lantunan azan subuh menggema, sang muazin membacakannya dengan merdu. Kumandangnya membangunkan Jakarta. Pasar Mencos telah riuh oleh ibu-ibu penjual sayur. Seorang pekerja kantoran sudah harus berangkat ke ibu kota dari rumahnya di Cileungsi. PPSU atau pasukan oranye bersiap-siap memenuhi tugasnya. Jutaan harapan kembali memenuhi udara. Pagi selalu membawa rasa magis. Ketika kau berjalan dengan air wudu yang masih membasahi muka, angin segar di waktu subuh akan menerka wajahmu, sebuah pengalaman yang sungguh tidak akan dapat digantikan oleh apa pun.

Rutinitas pagi dimulai dengan salat subuh. Bahkan bagi orang-orang yang beruntung, dengan salat 2 rakaat sebelum (qobliyah) subuh, seakan bisa mendapatkan dunia beserta segala isinya. Kalau kita mentadaburi hadis Rasulullah berkaitan dengan hal tersebut, bisa jadi tambahan 1-2 jam di pagi menambah keberkahan hidup kita. Kita mempunyai waktu lebih untuk menyiapkan aktivitas kita di hari itu. Memiliki ekstra menit, detak-detik dalam rangka kebermanfaatan diri. Syukur-syukur dunia bisa "mengikuti".

Dan memang, tidak hanya dari sudut pandang Islam, bangun pagi juga tentu memberikan banyak manfaat bagi orang-orang di luar Islam (baca: seluruh manusia). Buktinya, ada banyak tulisan yang membahasnya, dengan berbagai benefit. Salah satunya buku "The 5 AM Club" ditulis oleh Robin Sharma. Yang kalau dirangkum, menurut hemat saya akan balik seperti paragraf sebelumnya: "Dua rakaat sebelum Subuh itu lebih aku sukai daripada dunia dengan segala isinya." (Hadist Rasulullah yang diriwatkan oleh Imam Muslim). Jadi apakah kita termasuk anggota klub subuh, guna memenuhi panggilan-Nya, menjemput kemenangan, dan menaklukkan tidur kita?

Hayya 'alashshalaah
Hayya 'alashshalaah

Hayya 'alalfalaah
Hayya 'alalfalaah

Ash-shalaatu khairum minan-nauum
Ash-shalaatu khairum minan-nauum

Memiliki rutinitas tidaklah buruk. Di masa lalu, saya sempat mengamini kalimat ini: rutinitas akan membunuh kreativitas. Apa yang telah saya rasakan sendiri setelah mendapatkan pekerjaan kantor, saya tak bisa membuat karya lagi (contohnya pixel art, puisi, atau tulisan yang seperti Anda baca ini). Seakan-akan kreativitas adalah segalanya. Menciptakan karya berarti hal hebat. Jika tidak, maka saya tak melakukan apa pun. Rutinitas menjadi kambing hitam. 

Kelihatannya memang saya-lah yang selama ini telah salah memaknai rutinitas. Sebab, rutinitas sepatutnya membuat kita lebih produktif, alih-alih sebaliknya.

Kendra Adachi, dalam bukunya, Lazy Genius Ways, memberikan tips untuk bisa hidup lebih bahagia dan tidak stres. Dia mengungkapkan 13 cara yang dapat kita lakukan untuk menjadi pribadi lebih produktif. Genius di dalam hal-hal yang penting bagi kita. Dan tidak untuk selainnya, apalagi sampai menyibukkan diri untuk itu. Satu cara yang berelasi dengan esai ini ialah menciptakan rutinitas yang tepat.

Kendra menuliskan bahwa rutinitas adalah sebuah akses yang membantu kita menyiapkan diri menghadapi apa yang akan dilakukan. Dengan membangun rutinitas dimulai dari hal kecil, kerjakan satu hal yang memiliki dampak besar, dan jangan pernah melupakan apa tujuan kita. Kita buat rutinitas untuk tugas apa pun dan kapan pun waktunya, dimulai dengan hal yang penting bagi kita.

Sejalan dengan itu, salat lima waktu merupakan penjaga rutinitas yang tidak akan menyia-nyiakan. Kita bisa memanfaatkan jeda waktu menunggu salat dengan banyak kegiatan, termasuk pekerjaan profesional. Dari satu waktu salat dan ke waktu salat berikutnya, dari azan satu ke azan selanjutnya, semua kemungkinan dapat dilakukan.

Intinya, memasukkan salat lima waktu di dalam rutinitas adalah keputusan yang tepat. Hatta itulah alasan Allah Maha Baik mewajibkannya.

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Laa ilaaha illallaah

Azan akan selalu diperdengarkan mengelilingi Bumi. Bayangkan saja, para muazin dari berbagai daerah dari timur ke barat, secara berurutan akan mengumandangkan azan. Sebab waktu azan di setiap daerah itu berbeda-beda, mengikuti pergerakan cahaya matahari. 

Subuh, mulai fajar tampak di ufuk timur. Zuhur, saat matahari mulai condong ke barat. Asar, jika bayangan benda melebihi ukuran panjang bendanya sendiri. Magrib, ketika matahari terbenam. Dan Isya dimulai pas mega merah menghilang. Maka tak ayal, benarlah cerita kalau terdapat seorang tuna netra menggunakan azan sebagai penentu waktu. Seorang lansia memanfaatkan azan untuk mengetahui jam-jam.

Akhirnya, ini adalah pengingat bagi saya pribadi, azan perlu di-internalisasi ke dalam diri. Sebagai sebuah panggilan-Nya yang selalu kita tunggu-tunggu. Hati yang terpaut dengan salat, dan masjid. Sehingga, lika-liku, laku-tanduk, rutinitas kehidupan kita berada di dalam kekuasaan Allah subhanahuwataala. Bukankah hebat jika hidup kita, peran kita sebagai kalifah dan abdi ini secara total diridoi oleh Sang Maha Pencipta?

Kitalah sang muazin yang mendengarkan dan memperdengarkan azan dari subuh hingga isya. Dari bangun tidur sampai sebelum tidur kembali. Azan yang juga telah dikenalkan ke telinga ketika kita baru lahir, azan pula yang seyogianya mengantarkan kita masuk ke dalam liang lahat. Kalimat takbir-tahlil-syahadat yang meneguhkan kedudukan kita, sebagai hamba di hadapan-Nya.

Sabtu, 19 April 2025

Hoegeng Adalah Kita

Apakah saat ini Anda berniat korupsi? Memiliki rencana untuk melakukan korupsi? 

Tentu saja, tidak! Iya, toh?

Mungkin ada yang beralasan korupsi adalah perbuatan tercela, berdosa, merugikan banyak orang, dan sebagainya, sebagainya. Tetapi mungkin juga ada yang berpikiran, bahwa korupsi merupakan kejahatan luar biasa, dengan nilai uang yang besar --ratusan juta, miliaran, sampai triliuan, sedangkan kita (saat ini) tidak mungkin punya akses kepada uang sebesar itu. Gampangnya, belum punya "kesempatan" untuk melakukan korupsi.

Semoga alasan pertama yang menjadikan Anda dan saya tidak melakukan korupsi. Karena kita terlahir sebagai anak yang baik. Berita-berita tentang kegiatan korupsi yang dilakukan oleh para pejabat pemerintahan membuat diri kita, yang baik ini, marah. Sebab korupsi tidak sesuai dengan fitrah kita yang bersih dan suci. Perbuatan itu kotor, hina, buruk.

Sampai sini, pikiran kita masih waras.

Tidak mungkin bangsa Indonesia, secara sadar akan melakukan tindakan korupsi. Anak-anak masih jujur mengerjakan soal-soal ujian. Pemuda-pemudinya masih amanah dalam berkarya. Orang-orang tua memberi panutan, agar tidak mengambil hak orang lain.

Tidak ada pungli dan uang terselip di dalam birokrasi kita. Apabila ada truk berisi muatan ikan, sayur mayur, minuman kaleng, terguling di tengah jalan, warga akan bergotong-royong membantu mengembalikan dan tidak akan mencurinya. Jika ada tas berisi uang ditemukan terjatuh di pinggir jalan, maka dengan cepat tas tersebut akan dilaporkan ke kantor polisi.

Tulisan yang Anda baca ini diniatkan menjaga optimisme itu tetap ada. Mencoba sebagai pemantik api harapan. Sebagai pembuktian bahwa bangsa ini jauh dari budaya korupsi. 

Sekali lagi, apakah saat ini Anda berniat korupsi? Memiliki rencana untuk melakukan korupsi? 

Mungkin belum, sehingga kita perlu, untuk terus-menerus, banyak meneladani orang-orang yang sampai tutup usianya tetap memegang teguh kejujuran dan integritas. Untuk menjaga "kewarasan nasional" kita. Salah satunya ialah Jenderal Hoegeng, seorang polisi dan menteri dan negarawan.

Dikisahkan, Hoegeng enggan menggunakan nama lengkapnya sebagai nama "resmi". Nama yang tertulis di mejanya atau yang tersemat di dadanya hanya "Hoegeng". Ia berdalih, nama lengkapnya terlalu berat baginya. Hoegeng Iman Santosa. "Iman Santosa berarti imannya selalu ada," ucapnya. "Padahal belum tentu Hoegeng masih mengamalkan iman sampai akhir hayat. Biarlah nanti Hoegeng pakai nama itu kalau sudah meninggal."

Teladan yang rendah hati itu meninggal dunia pada 14 Juli 2004. Kisahnya sebagai satu-satunya polisi jujur, seperti kelakar Gus Dur, seakan menjadi bukti bahwa iman Hoegeng selama hidupnya 'sentosa'. Sosok yang berintegritas itu berdamping dengan nama Bung Hatta. Sebagai ikon anti-korupsi. Sebagai simbol integritas. Sebagai pelita yang membawa optimisme, bagi negeri yang remang ini.

Memangnya, apa saja yang telah dilakukan Hoegeng, sehingga dia mendapatkan tempat di hati masyarakat sebagai polisi yang jujur? 

Saat menjabat, Hoegeng tidak pernah mau menerima pemberian dari kontraktor. Contohnya ketika dia pindah rumah dinas. Saat mendapati di dalamnya telah diisi oleh banyak perabot, seperti meja, lemari, mesin cuci dari vendor, Hoegeng meminta semua barang tersebut dikeluarkan dari rumah. Apa jadinya kalau seorang pejabat menerima pemberian dari swasta, kontraktor, vendor? Bukankah jiwanya akan tergadai?

Selain itu, untuk menghindari konflik kepentingan, Hoegeng juga pernah menutup toko bunga yang pernah dibuka oleh sang istri. Ditakutkan, orang-orang dari pemerintahan akan membeli bunga dari tokonya tersebut untuk kegiatan yang dibiayai oleh negara. Betapa luar biasanya jika pejabat sudah selesai dengan dirinya sendiri, sehingga ia tidak akan memanfaatkan jabatannya untuk menambah kekayaan!

Integritas Hoegeng tidak melulu pada hal-hal besar di pemerintahan, bahkan ia wujudkan pada hal-hal sederhana. Seperti saat bepergian, ia selalu membawa bekal makanan, lantaran pernah di suatu kesempatan keluarganya makan di sebuah restoran, ada orang yang membayari tagihan makan Hoegeng. Sehingga ia berpendapat bahwa pejabat negara tidak sepatutnya dibayari oleh rakyat untuk urusan pribadi. Pun, bagaimana jadinya jika orang yang membayari tersebut di kemudian hari meminta balas budi?


Kisah Hoegeng sudah banyak tertulis di buku-buku biografi, artikel-artikel, bacaan-bacaan. Nilai-nilai yang diyakininya dapat memberikan kita pemahaman bagaimana seharusnya seorang negarawan itu, bagaimana semestinya integritas dipegang erat, digigit dengan gigi geraham.

Dari Hoegeng pula kita belajar bahwa iman adalah pemandu hidup. Kepercayaan akan adanya Kuasa yang Maha Tinggi, yang Maha Melihat, bisa memandu kita untuk terus melakukan kebajikan. Dan menjaga keimanan juga merupakan hal yang tidak gampang. Keimanan itu naik turun, bisa saja pagi beriman, malamnya tidak. Isuk dele, sore tempe. Maka dibutuhkan upaya lebih untuk menjaga keimanan tetap tebal, tinggi, dalam.

Selain berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa; menerapkan budaya saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran; kita bisa menambah keimanan dengan ilmu. Senantiasa belajar apa itu iman, apa itu korupsi, apa saja mudharat dari korupsi, apakah negara lain yang korupsi dipimpin oleh demagog atau fasis, belajar apa saja. 

Terakhir kali, apakah saat ini Anda berniat korupsi? Memiliki rencana untuk melakukan korupsi? 

Saya yakin tidak!

Seperti apa yang telah saya tuliskan di atas. Namun, kita masih punya satu pekerjaan rumah. 

Yaitu memiliki pemimpin yang berintegritas, di semua level. 

Kita masih merindukan pemimpin yang bisa kita jadikan panutan.

Pentingnya memiliki seorang pemimpin yang menjadi teladan nasional, yang tindak tanduknya sejalan dengan nilai-nilai yang diimani. Seorang negarawan yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, jauh dari konflik kepentingan. Mereka yang menjabat tidak untuk memperkaya diri sendiri. Bukan yang berteriak "negara ini besar" ternyata maksudnya adalah potensi sumber daya alam yang akan dikeruk untuk memuaskan dirinya dan kelompoknya.

Pemimpin yang jauh dari keinginan pribadi akan menjadi ikon dari perlawanan kita kepada korupsi, kolusi, dan nepotisme. Memang kurang apalagi sejarah bangsa ini dalam menunjukkan kebobrokan otoritas pejabat negara? Korupsi, korupsi, korupsi, korupsi di segala lini kehidupan. Salah satunya disebabkan kita tidak memiliki pemimpin aktif yang bersih.

Kalau "pemimpin adalah cerminan rakyatnya", bukankah bangsa Indonesia yang tidak akan melakukan korupsi ini, juga seyogianya memilih pemimpin yang sejalan dengan nilai kita? Apakah kita terus-terusan akan mengulang kesalahan yang sama? Salah memilih presiden, wakil rakyat, gubernur, walikota?

Kita sambut 2029 dengan pemahaman bahwa kita sepatutnya dipimpin oleh pemimpin, yang 11-12 dengan Hoegeng, ikon dari kejujuran dan integritas, karena Hoegeng adalah kita.

Jumat, 04 April 2025

Panduan Praktis Sebagai Pemimpin

Pixel Art Soi


Langsung saja, saya merasa terpanggil untuk menuliskan "panduan praktis" ini. Sebuah panduan yang berisi bagaimana caranya menjadi seorang pemimpin, memuat karakter atau sifat apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Panduan dalam versi sederhana, model paling pokok, sebentuk intisari. Panduan yang terdiri dari daftar yang sering diabaikan, padahal mempunyai dampak paling besar.

Ketika disebut kata "pemimpin", tentunya yang dimaksud adalah pemimpin ideal, yang dihormati tim, bisa secara efektif mencapai target-target. Ditulis di tengah kondisi para manajemen yang tidak bisa melakukan pekerjaan manajerial, di kala para pejabat tidak tahu cara mengelola pemerintahan yang baik, di masa-masa banyak dari kita lupa bahwa semua orang "pemimpin". 

Apakah saya punya otoritas untuk menuliskan tema kepemimpinan ini? Ya, tentu saja! Berbekal pengalaman selama ini, saat menjadi pemimpin di berbagai komunitas dan organisasi. Semua yang saya tulis di sini telah berhasil memandu saya saat menjadi pemimpin dan membawa tim mendapatkan capaian yang optimal. Selain itu, tidak ada salahnya berbagi kisah dan hikmah. Mungkin saja akan berguna bagi pembaca yang budiman, atau ya minimal saya baca sendiri di masa depan. 

Karena judulnya "panduan praktis", maka akan ditulis sesederhana mungkin supaya dapat diaplikasikan, agar daftar "panduan praktis" ini bisa menjadi manfaat.

Setelah membaca tulisan ini, saya merasa yakin kita semuanya akan setuju bahwa seorang pemimpin perlu memiliki sifat-sifat yang disebutkan. Juga berharap pemimpin, koordinator, team lead, ketua kita bisa seideal itu. 

1. Selesai dengan Diri Sendiri 

Hal pertama dan paling utama, yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin, dalam tingkatan apapun, mulai dari remeh-temeh sampai level pemimpin negara, ialah sudah selesai dengan diri sendiri.  Keadaan ketika seorang pemimpin telah berdamai dengan dirinya sendiri dan tidak bergantung pada orang lain dalam artian yang negatif. Tidak egois, bersikap bijaksana, dapat mengontrol ambisi dan nafsu.

Menjadi pemimpin berarti harus rela berkorban. Waktu, tenaga, pikiran, segalanya. Semua milik pemimpin digunakan untuk mengurusi, mengatur, mengelola apa-apa yang menjadi tanggung jawabnya.

Pemimpin yang belum selesai dengan dirinya sendiri, berpotensi mengeruk sebanyak-banyak manfaat bagi dirinya, kelompoknya, atau orang-orang terdekatnya, yang bisa jadi dalam waktu yang bersamaan merugikan bermacam makhluk (orang, lingkungan, dsb). Hal ini niscaya bisa mengantarkannya ke perbuatan korupsi, kolusi, nepotisme (KKN). 

Baca tulisan saya lainnya tentang korupsi: Apakah Bisa Melakukan Korupsi di Metaverse?

Bukankah kita cukup (atau terlalu) kenyang mendengar istilah KKN? Dan muak atas segala berita tentang KKN? Tapi, coba tebak, apa yang membuat kita tidak pernah terbebas dari jeratan KKN? Salah satunya karena para pemimpin kita belum selesai dengan dirinya sendiri, semua keputusan hanya demi memenuhi hasrat dan egonya seorang.

Pemimpin seperti itu tidak akan bisa objektif. Karena ia akan terkekang oleh banyak kepentingan. Banyak mulut yang butuh ditutup, entah untuk disuap atau dibungkam.

Jika kita ingin menjadi seorang pemimpin, seyogianya sudah selesai dengan diri sendiri. Lebih mengutamakan orang lain. Mempunyai rasa kebermanfaatan bagi khalayak ramai. Dan butir lainnya pada panduan praktis ini membutuhkan sifat tersebut.

Ah, andai negeri ini dipimpin oleh para negarawan sejati, yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Sehingga jiwa dan raga dan pikirannya didedikasikan penuh bagi bangsa.

2. Make It Simple!

ENTJ (The Executive) merupakan hasil tes kepribadian saya pada MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) dan saya mencatat kalimat deskriptifnya sebagai berikut: kamu lebih memilih untuk memutuskan segala keputusan dengan cepat karena kamu biasanya dapat secara sigap menelaah kompleksnya masalah dan mampu menyerap informasi nonpersonal dengan jumlah yang banyak dalam satu waktu. 

Menjadi seorang pemimpin pasti akan dihadapkan pada berbagai kompleksitas informasi, permasalahan, drama, atau apapun! Sehingga, guna menyelesaikan setiap permasalahan yang muncul, kita perlu dapat dengan segera menangkap semua informasi yang dibutuhkan, dan menjadikannya sederhana.

Bagaimana sesuatu dikatakan sederhana? Gunakanlah list/daftar! Apabila bisa mendefinisikan sebuah daftar, maka kita selangkah lebih maju daripada anggota tim (dan itulah peran seorang pemimpin). Membuat daftar juga berarti: satu permasalahan telah diselesaikan.

Penyederhanaan lainnya yaitu, dari opsi yang beragam, kita bisa memotongnya menjadi hanya 2-3 opsi (terbaik, paling optimal). Opsi tersebut yang akan didiskusikan bersama tim. Gunakan pula metode-metode lainnya dalam melakukan penyederhaan. The Decision Book, buku oleh Mikael Krogerus dan Roman Tschäppeler, buku yang perlu kita baca, yang berisi panduan, metode-metode dalam memutuskan segala sesuatu.

Dengan menjadikan segalanya sederhana (dalam artian positif, bukan meremehkan) kita bisa menjadi seorang pemimpin efektif. 

Pixel Art Soi


3. Visioner

Mungkin ini klise, berbagai bacaan atau pelatihan yang membahas kepemimpinan, pasti menjadikan "visioner" sebagai syarat wajib setiap pemimpin. Namun, kenyataannya tidak semua pemimpin yang saya temui berkarakter visioner. "Visioner" kan berarti dapat melihat dan berpandangan masa depan. Nah, mungkin istilah "masa depan" ini yang sering menjebak para pemimpin. Sebab terlalu abstrak dan tidak tergapai.

Bagaimana kalau kita sederhanakan menjadi minggu depan, bulan depan, dan tahun depan? Apakah menjadi lebih jelas?

Seorang pemimpin dalam suatu organisasi, perlu memiliki nalar dan rasa dan kesadaran akan apa yang akan, bisa, mungkin terjadi. Misalkan apa yang akan menjadi tren di bulan depan, apakah ada potensi lonjakan setelah implementasi suatu sistem, bagaimana dampaknya jika terdapat distrupsi pasca reorganisasi.

Memang, bagi sebagian orang, berlaku visioner itu susah. Supaya bisa menjadi seorang visioner perlu dilatih. Salah satu caranya yaitu dengan membiarkan imajinasi kita bekerja. Membayangkan segala kemungkinan dan skenario di dalam kepala.

Baca tulisan saya lainnya tentang contoh menjadi pemimpin visioner: Karang Taruna Berbasis IT

Bagi kita yang sebelumnya telah mengalami momen dan pengalaman itu sendiri, tentunya bisa lebih aware atas apa yang akan terjadi. Misalkan kita sudah lebih dari satu tahun mengurusi sebuah organisasi, jelas mengerti bagaimana pola dari segala sesuatu. Karena sewajarnya semua hal di dunia ini berpola, bagaimana pun acaknya suatu peristiwa, pasti ada polanya. Yang mesti kita lakukan adalah mencatat pola-pola yang terjadi, sebagai bahan untuk menentukan langkah di masa mendatang.

Seorang pemimpin visioner, bisa melihat apa yang terjadi di minggu depan, bulan depan, dan tahun depan, akan sangat membantu tim dalam menyelesaikan pekerjaan dan mewujudkan capaian KPI yang bagus.

4. Inisiatif

Di mana letak seorang pemimpin? Apakah berada di depan, di tengah, atau di belakang? Bisa di ketiga posisi itu. Meminjam falsafah yang diajarkan Ki Hajar Dewantara: Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (Di depan memberi contoh, di tengah-tengah membangun semangat, dari belakang memberi dorongan). Hal terpenting pemimpin mampu berinisiatif untuk mengambil posisi tersebut.

Seorang pemimpin perlu memprakarsai dirinya dalam banyak hal. Menjadi yang pertama dalam melakukan kebaikan. Menginisiasi berbagai tindakan yang bisa memajukan perusahaan atau organisasi. Memiliki inisiatif ini juga berkelindan dengan visioner, bagaimana jadinya andaikata kita mendeteksi sesuatu akan terjadi tapi kita tidak berinisiatif untuk mengambil tindakan? Tentu visi kita tidak akan berguna.

Tapi, sifat inisiatif ini yang sering luput dari seorang pemimpin. Tak sedikit yang tidak menyadari kebutuhannya. Yang menjadikan sebuah tim seperti jalan di tempat. Bagaimana bisa seseorang disebut pemimpin atau koordinator atau team lead jikalau tidak bisa berinisiatif? Bagaimana jadinya dia hanya reaktif dan menunggu?

Bagi anggota tim, seorang pemimpin akan sangat dihormati dan dihargai apabila ia bisa proaktif, aktif, atau responsif untuk bisa di depan memberi contoh,  di tengah-tengah membangun semangat, dari belakang memberi dorongan.

5. Hormati Semua Orang

Semua manusia berharap dapat dimanusiakan oleh manusia yang lain. Seorang pemimpin perlu untuk bisa menghargai dan menghormati anggota tim dan pemimpin tim lain. Tidak meremehkan dan tidak memandang sebelah mata. Sesederhana tidak melakukan perundungan (bullying); menghargai semua pendapat yang disampaikan dan tidak 'melawan'-nya; memberi apresiasi untuk anggota tim yang berprestasi dan mencapai target (apresiasi bisa dalam bermacam bentuk ucapan, pemberian hadiah, bantuan; kita bisa menggunakan pendekatan 5 jenis love language kalau mau).

Baca tulisan saya lainnya tentang pentingnya saling menghormati: Apa yang Kami Pelajari dari Hackathon?

Sehingga, mengormati orang lain itu juga dimulai dari bertindak adil sejak dalam pikiran. Memandang semua orang setara. Aksi nyata tidak berperilaku sebagai berikut: hanya hormat kepada VP atau SVP tetapi acuh tak acuh dengan house keeping (HK). Sebaiknya jangan seperti itu. Bila kita hormat kepada orang dengan jabatan, seharusnya kita pun bisa hormat kepada orang-orang yang dianggap tidak punya jabatan. Padahal, sekali lagi, semua orang itu sama di mata Tuhan (yang membedakan adalah keimanan dan ketakwaannya).

Dengan melatih untuk bisa menghormati semua orang, seorang pemimpin akan mampu bersikap objektif dan bijaksana dalam menghadapi berbagai permasalahan yang berhubungan dengan personel tim. Bagi anggota tim, tentunya kita juga akan sangat menghormati pemimpin kita yang seperti itu.

Pixel Art Soi


6. Jadi Pendengar yang Baik

Sesudah mempunyai pemahaman bahwa semua orang setara, yang harus kita hormati, langkah selanjutnya yaitu menjadi pendengar yang baik. "Listening is not a passive activity. It is the most active thing that you can do," ungkap seseorang. Mendengarkan bukanlah aktivitas pasif, melainkan tindakan paling aktif yang bisa kita lakukan. Apalagi bagi seorang pemimpin, kita perlu membiasakan diri untuk bersikap "aktif" saat mendengarkan. Kita mendengar untuk memahami, alih-alih untuk sekadar menjawab.

Sebuah tim terdiri dari banyak orang, banyak kepala. Masing-masing memiliki pendapat dan opini yang mungkin berbeda-beda, maka penting bagi pemimpin untuk bisa mendengarkan apa yang menjadi concern anggota tim. Terlepas dari penilaian kita terhadap gagasan yang disampaikan. Bisa jadi memang tidak perlu untuk diambil tindak lanjut, tetapi membudayakan anggota tim untuk berani mengungkapkan pendapat adalah hal yang sangat bagus. Tentu kita akan menantikan ide yang cemerlang dari mereka di kemudian hari.

Sikap menghormati dan menjadi pendengar yang baik, akan memunculkan sebuah kondisi "psychological safe". Setiap anggota tim akan merasa aman untuk mengambil risiko interpersonal, berbicara, tidak setuju secara terbuka, mengemukakan masalah tanpa takut akan dampak negatif atau tekanan untuk menutup-nutupi. Juga, akan tumbuh rasa empati dan simpati serta rasa saling memiliki di antara anggota tim.

7. Jadi Teladan

Ingin punya tim yang solid dan "juara satu"? Jadilah teladan! Kita perlu menunjukkan bahwa nilai-nilai yang kita bicarakan, visi-misi yang kita gaungkan, itu telah diinternalisasi ke dalam diri. Jika memang kedisplinan adalah nilai utama tim, jadilah orang yang datang pertama kali ke kantor atau setidaknya lebih pagi dari mayoritas yang lain. Jika kompetensi merupakan inti dari organisasi, maka belajarlah terus menerus dan mengaktualisasi diri. Tunjukkan kepada tim kita!

Sungguh benarlah idiom "Actions speak louder than words". Anggota tim butuh sosok panutan yang menunjukkan apa yang seharusnya dijalankan, diyakini, dipegang. Bukankah jika kita menjadi anggota tim, juga ingin ketua kita tidak omdo (omong doang)? Maka dari itu, seorang pemimpin harus selalu berusaha untuk menjadi teladan. Betapa pun sulitnya konsep tersebut!

Dan pada akhirnya, seorang pemimpin sejati tidak perlu "jadi" teladan, karena lama kelamaan ia teladan itu sendiri (tanpa ia sadari). Tindakannya adalah apa yang ia ucapkan. Seseorang yang berintegritas, yang utuh.

Baca tulisan saya lainnya tentang integritas dalam: Integrasi Akal Sehat

8. Bacalah!

"Iqra bismi rabbika ladzi khalaq!" 

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!"

Kalimat di atas merupakan ayat pertama dari Surah Al-Alaq dalam Al-Quran, yang menekankan pentingnya membaca, belajar, dan mencari ilmu. Tidak terkecuali bagi seorang pemimpin. Di luar sana ada banyak sekali buku dan literatur yang membahas tentang kepemimpinan, yang menunggu untuk dibaca, dipahami, dan diterapkan. Anggota tim akan sangat berterimakasih jika kita bisa membaca untuk menjadi pemimpin yang lebih baik.

Membaca tidak harus bacaan yang berat. Bahkan membaca fiksi juga bisa memberikan kita manfaat. Fiksi terbukti dapat meningkatkan empati dan kepekaan sosial. Sebab kita akan menjadi tokoh yang ada di dalam sebuah karya, seperti novel atau cerita pendek. Untuk bisa memahami perasaannya, bagaimana ia mencapai tujuan dan menyelesaikan permasalahan yang muncul di dalam alur cerita.

Membaca pun bukan melulu soal literasi. Kita harus pula membaca anggota tim, rekan kerja kita. Membaca suasana hatinya, membaca ekspresi wajahnya, membaca cara ia merespon kita, membaca semuanya. Dengan begitu, sebagai seorang pemimpin, kita akan lebih mudah memahami dan mengarahkan tim. Ini perlu dilatih, salah satu caranya dengan banyak membaca buku!

Saya pernah membuat tulisan yang berisi banyak rekomendasi bacaan tentang hubungan manusia pada esai Love as a Service, bisa dibaca pada link berikut: https://www.safrizal-ariyandi.com/2023/12/love-as-service-laas.html

Pixel Arti Soi


9. Jangan Berhenti Belajar

Syahdan, menjadi pemimpin adalah tentang menjadi manusia sejati. Arif, bijaksana, utuh. Salah satu ciri menjadi manusia ialah terus belajar selama hayat masih di kandung badan. Ilmu akan mengantarkan kita kepada kebijaksanaan, pondasi dasar bagaimana kita berinteraksi dengan manusia, dalam hal ini: anggota tim kita.

Seorang pemimpin adalah seseorang yang telah selesai dengan dirinya sendiri, mempermudah dan menyederhanakan urusan, seorang visioner, memiliki inisiatif tinggi, menghormati semua orang, menjadi pendengar yang baik, menjadi teladan, gemar membaca, dan tidak pernah berhenti belajar. Sehingga dapat menyebutkan lebih banyak sifat dan karakteristik pemimpin ideal selain apa yang sudah dijelaskan di atas. Pula, untuk dapat menginformasikan kepada saya, diri yang daif ini apabila ada yang kurang dan keliru dari tulisan sederhana ini. Yang semata-mata untuk mengikat hikmah dari kepemimpinan yang pernah dilakukan.

Selamat menjadi pemimpin, orang-orang hebat! Kita sambut pemilu 2029 dengan demokrasi yang sehat, yang memanusiakan manusia, yang mengedepankan akal sehat, yang berorientasi akhirat.