Pada 2017-2019, di kampung saya pernah ada karang taruna (kartar) tingkat RW yang aktif; mempunyai nama sendiri, yaitu SIGAP (kepanjangan dari Sinergis, Inovatif, Gesit, Amanah, dan Profesional); terdapat program kerja di luar agenda (rutin) bulan Agustus; struktur organisasinya jelas, bidang atau divisi tersusun apik, yang masing-masing dipimpin oleh para ketua yang bersemangat; serta memiliki banyak terobosan dan inovasi.
Namun bernasib sama dengan kebanyakan organisasi dan komunitas non profit atau swadaya kampung, sepertinya kartar RW itu lambat laun kembali pasif. Atau mungkin, sebelum menyimpulkan demikian, bolehkah saya ajukan pertanyaan: bagaimana kabar karang taruna RW hari ini?
Sebuah pertanyaan yang tidak tahu "baiknya" ditanyakan kepada siapa, karena saya pun termasuk bagian dari orang-orang yang membiarkan tongkat estafet itu tergeletak tak terurus. Tidak dilanjutkan kepada para penerus. Membiarkan api itu padam. Sebagai gantinya, saya ingin meniup api itu pelan-pelan melalui ingatan, hal apa saja yang telah kartar RW SIGAP lakukan di masa jayanya dahulu.
Dengan harapan, catatan singkat ini bisa memberikan hikmah dan pelajaran di kemudian hari, semisal mendapatkan lagi kesempatan berkontribusi di kampung atau masyarakat luas. Juga sebagai pengingat atas apa yang terucap di malam pemilihan dan penunjukkan saya menjadi ketua kartar RW, "Saya merasa tertantang untuk mengurusi karang taruna RW."
Ucapan yang jelas memicu rasa keingintahuan saya. Di masa awal kepengurusan karang taruna RW itu, saya putuskan untuk membaca lebih banyak tentang organisasi/komunitas sosial tersebut. Tentang sejarahnya, dasar hukumnya, aturan-aturan dan pedomannya. Salah satu tujuannya supaya bisa berikhtiar membawa kartar RW lebih baik daripada periode sebelumnya (yang entah dianggap ada atau tidak kala itu). Bukankah kita akan semakin yakin dengan tindakan kita apabila kita tahu tujuan dari segala sesuatu?
Selanjutnya, dengan bekal pengalaman mengikuti bermacam kepanitiaan dan organisasi, saya bisa menilai, merumuskan, dan menentukan bagaimana bentuk organisasi kartar yang cocok. Lalu, seperti sudah ditakdirkan untuk "hidup", meminjam analogi kimia, ketika beberapa unsur bisa bersenyawa, klop menjadi satu kesatuan, bertemu pemuda-pemudi hebat. Mereka adalah penggerak kampung, aktivitis kartar RT, anggota remaja masjid. Mereka orang-orang yang akhirnya menemani saya mengurusi kartar, yang menjabat pengurus harian dan ketua-ketua bidang atau divisi. Saya amat sangat bersyukur dengan adanya mereka.
Dengan merekalah, para pengurus kartar SIGAP, banyak ide dan gagasan bisa didiskusikan. Meskipun karena satu dan lain hal, beberapanya tidak berjalan sesuai rencana awal, tetapi tak sedikit yang berhasil direalisasikan. Di antaranya yang akan dijabarkan di sini, untuk kita petik hikmah dan pelajarannya.
Pertama, istilah "rapat" yang kami ganti dengan kata "gumbul". Bagaimana cara mengubah pola pikir dan imej sebuah komunitas? Cara paling sederhana ialah melalui slogan atau jargon. Karang taruna yang memiliki citra kurang enak, karena isinya adalah pengabdian, kaku, disetir Bapak-bapak, perlu memiliki penyegaran supaya para anggota merasa nyaman. Hal tersebut yang pertama kali saya cetuskan. Rapat pertama kali membahas pengganti istilah gumbul.
Kedua, gumbul lanjutan melakukan finalisasi struktur organisasi kartar. Seperti yang sudah ditentukan di awal, pemuda-pemudi yang menjadi pengurus adalah orang-orang pilihan. Ada dua kondisi yang menjadikan hal tersebut, yang pertama mereka merupakan para calon ketua kartar RW dari RT masing-masing. Yang ikut dalam proses pemilihan. Yang di hari setelahnya, saya kontak personal satu-satu untuk ditawari menjadi pengurus. Kondisi kedua, mereka harus sudah lulus sekolah (SMA). Berbagai pertimbangan saya pikirkan dalam usulan nama-namanya. Hingga akhirnya, mereka sepakat untuk menjadi bagian dari Kartar SIGAP. Mereka adalah:
- Ketua I: Aan
- Ketua II: Meta
- Sekretaris: Indah
- Bendahara: Sicil
- Kabid Kerohanian: Sigit
- Kabid Hubungan Masyarakat (Humas): Joe
- Kabid Sosial: Rendy
- Kabid Ekonomi: Hanif
- Kabid Lingkungan Hidup: Yosy
- Kabid Seni dan Olahraga (Senor): Deni
Pemilihan bidang-bidang apa saja yang ada di karang taruna, benar-benar murni usulan dari kami. Ketua RW dan jajaran pengurusnya tidak memberikan arahan apa pun, karena mereka menganggap, sudah ada kartar saja sudah lebih dari cukup. Sehingga itu juga menjadi dorongan bagi saya untuk merumuskannya. Pemilihan bidang tersebut diramu dari berbagai sumber, dan yang sesuai dengan kebutuhan kampung.
Masing-masing ketua bidang saya minta untuk memilih satu program unggulan di luar kegiatan-kegiatan dukungan kegiatan RW. Misalnya Sigit, kabid kerohanian yang juga menjabat ketua remaja masjid besar di kampung. Dia dipilih supaya kartar dan remas bisa saling berkoordinasi dan program-programnya terintegrasi.
Selain itu, sampai akhir kepengurusan --sebelum vakum, kegiatan asli Kartar RW dari bidang yang sudah berjalan adalah milik humas, yaitu pegi-pegi SIGAP dan Malam keakraban (Makrab), dari Senor;
Bagaimana kabar kalian, Rek?
Ketiga, mengenai nama. "SIGAP" merupakan sebuah doa dan core value yang membersamai kami dalam menjalankan kartar. Ia tersusun dari 5 kata sifat yang masing-masing memiliki penjelasan berikut:
- Sinergis: dapat bersinergi, berkoordinasi, dan berkolaborasi dengan elemen-elemen yang ada di wilayah RW.
- Inovatif: penuh dengan inovasi dan kreatif dalam membuat kegiatan dan menjalankan fungsi Karang Taruna.
- Gesit: cekatan dalam melakukan kegiatan.
- Amanah: dapat dipercaya dan penuh tanggung jawab.
- Profesional: bisa menjalankan setiap amanah dengan baik dan berintegritas tinggi.
Kami menyadari bahwa dengan memiliki nama khusus, yang terdiri dari nilai-nilai, yang jelas dan bersifat positif, kartar dapat dibawa ke arah yang lebih baik. Gampangnya, kita punya pegangan bagaimana setiap kegiatan itu harus diselesaikan, amanah untuk dituntaskan. Tentunya ini bisa juga diterapkan bagi setiap kartar yang ada, atau organisasi lainnya di luar sana.
Keempat. Kegiatan andalan kami yaitu "Pegi-Pegi SIGAP". Program yang digagas bersama kabid Humas, Joe. Pegi-Pegi SIGAP sebagai perekat yang sempat renggang.
Sebelum ada kartar RW, di kampung sudah ada beberapa kartar tingkat RT yang terbentuk dan memiliki kegiatan rutin; yang begitu eksis di wilayah RW. Mereka aktif dalam melakukan kegiatan-kegiatan, khususnya pada momen kemerdekaan RI. Juga sudah memiliki struktur kepengurusan sendiri ketika kartar RT yang lain bahkan belum terbentuk.
Namun saat berjalannya waktu, saya melihat ada yang kurang. Tidak ada yang bisa menyinergikan kartar tiap RT tersebut. Belum ada suatu forum dan sarana untuk saling bersilaturahmi. Mungkin ini juga bisa menjadi salah satu peran kartar SIGAP RW untuk bisa menyatukan semua kartar RT.
Maka dari itu, Pegi-Pegi SIGAP kami gunakan sebagai sarana pengenalan para pengurus kartar SIGAP dan program-program kerja yang telah kami rencanakan.
Kelima, yang paling seru: Malam Keakraban (Makrab) Kartar Se-RW. Setelah "sukses" dengan program Pegi-Pegi SIGAP dan membuat forum antar ketua kartar RT, kami mengadakan sebuah event bersama. Dilaksanakan pada malam minggu di gang santri, depan TK dan TPQ. Mengangkat tema kebersamaan, tersusun dari serangkaian acara, yaitu: penampilan masing-masing kartar RT, apresiasi dan awarding, makan bersama. Intinya malam itu waktunya para pemuda di RW untuk saling mengakrabkan diri.
Terdapat panggung hiburan, alat musik sederhana, spot foto, F&B booth sederhana, dan banyak lagi. Bagi warga, kegiatan kartar RW ini adalah sebuah terobosan. Belum pernah ada sebelumnya. Apalagi semua persiapan dan bentuk acara ditangani tim karta sendiri tanpa ada campur tangan pengurus RW atau RT.
Karena terdapat panggung hiburan dan penampilan masing-masing kartar RT, muncullah banyak anggota yang berbakat musik. Para vokalis dan pemain alat musik. Seperti sudah ditakdirkan untuk bersama, dari kegiatan itu di kemudian hari terbentuklah band kartar, Rumah Senja.
Rumah Senja merupakan band yang dibentuk setelah adanya kebutuhan performance di kegiatan RW atau kampung. Personelnya saya pilih dan ajak dari pemuda-pemudi yang pernah tampil di kegiatan makrab, seperti yang saya sebutkan di atas. Mereka adalah Sabrina (vokal & biola), Azis (vokal & gitar), Yosy (vokal & bass), dan Wally (drum/kajoon). Sekali lagi, kartar di wilayah kampung saya menunjukkan eksistensinya. Tak hanya tampil di beberapa event kampung, kami pun pernah tampil di Gresik, di sebuah event indie.
Bagaimana kabar kalian, Rek?
Walaupun memiliki beragam kegiatan kreatif, khas pemuda, tetapi, seperti yang saya sebutkan di awal, kartar RW kini hanya menjadi sejarah.
Mengapa karang taruna seringnya tidak sustain atau bertahan lama? Menurut saya karena tidak memiliki pola kaderisasi yang baik. Di tahun 2019, saya dan pengurus yang masih bertahan merumuskan pola kaderisasi. Dibagi menjadi 3 bagian dan pengelompokkan, yaitu SMP, SMA, dan kuliah atau kerja.
- Kelompok SMP: Masa pengenalan; semua hal tentang karang taruna, rukun warga atau kampung, dan antar anggota kartar, baik kartar RT maupun RW.
- Kelompok SMA: Masa penggalian potensi; mendefinisikan dan dokumentasi minat & bakat, hobi, prestasi, dan aspirasi tentang kartar.
- Kelompok Kuliah/Kerja: Masa pemberdayaan; optimalisasi potensi yang sudah diketahui. Seperti yang dilakukan di Kartar SIGAP, pengurus Kartar level RW harusnya yang sudah berada di kelompok ini.
Pengelompokkkan di atas tentunya harus didukung dengan basis data kepemudaan kampung yang rapi dan up-to-date. Pengalaman kartar SIGAP, proses ini bisa didapatkan ketika pelaksanaan pegi-pegi atau saat menjelang Agustusan.
Selain itu, imej kartar kerap kurang enak di mata para remaja. Belum ada kebanggaan yang menyertai karang taruna, apalagi di level RT atau RW. Maka setelah ada pola kaderisasi yang terstruktur, pemuda-pemudi pengurus kartar perlu mendapatkan apresiasi lebih. Didukung juga dengan branding yang terencana. Sehingga, mereka bisa dengan berbesar hati memasukkan pengalaman di karang taruna ke dalam CV saat melamar pekerjaan. Seperti yang saya lakukan dulu.
Kartar juga perlu didorong untuk memiliki karya kongkrit yang bisa menghasilkan manfaat. Hal paling gampang di era sekarang yaitu memanfaatkan teknologi IT. Gagasan yang pernah saya tulis sebelumnya di blog ini. Silakan bisa dibaca pada tautan berikut: Karang Taruna Berbasis IT.
Intinya, kartar tidak boleh lagi dipandang sekadar tempat "pengorbanan" tanpa ada benefit lebih. Kartar harus menjadi wadah berkontribusi, tetapi juga memberikan banyak hal yang bisa meningkatkan value, karakter, skill, pengalaman berharga bagi pemuda-pemudi. Bukankah waktu yang sudah disempatkan dan tenaga yang dicurahkan kepada pengabdian kampung itu akan lebih menarik jika bisa kembali dalam bentuk manfaat-manfaat?
Ah, sayangnya gagasan di atas memang belum bisa sepenuhnya saya internalisasi di dalam kartar SIGAP kala masih membersamai mereka. Apa yang sekarang hanya menjadi penyesalan dan bahan renungan setiap kali pulang ke kampung.
Jadi, bagaimana kabar kalian, Rek?


0 comments:
Posting Komentar