Ucapan seseorang bagaikan isi teko yang dituang. Jika teko berisi jamu, maka yang akan keluar adalah jamu. Apabila isinya soda, yang tertuang pastilah soda. Teko berisi kopi, mengeluarkan kopi. Semua yang mengalir dari dalam, berasal dari isinya.
Sehingga, spontanitas kalimat yang terucap dari mulut seorang pria: "Semoga cuman Allah yang ada di hatiku," seyogianya berasal dari diri yang merindukan perjumpaan dengan-Nya, atas cinta yang berlebih-lebih. Bukan dari kepura-puraan, atau bahkan kemunafikan.
Fitrah manusia, yang sebagai makhluk, sejatinya merupakan pancaran akhlak dari Sang Khalik. Terdapat hubungan cinta yang luar biasa. Bekal kita untuk memenuhi peran sebagai hamba, selaku 'abd.
Hanya saja dunia mengalihkan perhatian kita dari-Nya. Hati kita, pikiran kita terhijab, tertutupi oleh bermacam dinding. Bisa jadi sebab dosa atau kezaliman atau kemunafikan.
Mulut yang seharusnya mengeluarkan kata-kata baik, malah seringnya buruk, tidak mencerminkan sama sekali bahwa kita adalah ciptaan sempurna dari Sang Maha Sempurna.
Maka muncul satu pertanyaan, mengapa kita tidak bisa menjadi pribadi yang santun dalam ucapan?
Dan jika setan datang menggodamu,
maka berlindunglah kepada Allah.
Sungguh,
Dia Maha Mendengar,
Maha Mengetahui.
(Quran Surat Al-A'raf ayat 200)
Mungkin saja karena kita butuh kembali mendekat kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Berlindung dari setan, musuh sejati kita. Karena setan berjanji menyesatkan kita dan menjauh dari panggilan Allah 'azza wa jalla. Lagi pula, hanya kepada-Nya kita akan kembali, mau tersesat dan jauh juga untuk apa?
Mendekat tidak sekadar mendekat. Mendekat bersama takwa. Mendekat beserta cinta. Mendekat dengan mesra. Mendekat membawa kesadaran bahwa, sesuai hadits Qudsi, jika kita datang kepada Allah dengan berjalan, maka Dia mendatangi kita dengan berlari. Sungguh, begitu besar rahmat-Nya, kasih dan sayang-Nya.
Menggapai cinta yang paling tinggi melalui bermesraan. Memang kalau dipikir, tidak mungkin akan selevel para wali Allah, pada kekasih Allah. Setidaknya, kita bisa meniru sunnah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Nabi yang memiliki nama yang terpuji. Tindak tanduknya memancarkan cinta.
Dikisahkan Nabi pernah ditanya istri tercinta, mengapa ia begitu banyak menunaikan salat malam padahal surga telah dijaminkan. Jawaban Nabi begitu sederhana: "Maka apakah tidak patut aku menjadi hamba yang bersyukur?"
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran. Koneksi kita dengan Allah Asy-Syakur bisa dipertebal lewat rajin salat malam.
Bermesraan dengan-Nya di sujud-sujud di kesunyian malam pastilah akan menambah kehambaan kita.
Di saat manusia tertidur lelap, kita dibangunkan oleh Allah untuk menjumpai-Nya. Bahkan tanpa adanya azan, Dia memanggil kita langsung secara pribadi. Dan di momen yang syahdu tersebut, kita mengingat semua dosa yang kita perbuat, kezaliman yang kita banggakan, kemunafikan yang kita tampakkan. Air mata taubat pasti mengalir deras. Sesenggukan wujud pengakuan.
Banyak ulama yang mengajarkan bahwa salat tahajud baiknya digunakan untuk mengejar rido-Nya, alih-alih meminta ini dan itu. Walaupun tidak ada larangan jika kita menyampaikan hajat dan keinginan kita kepada Ar-Razaq. Namun, bisa bangun untuk menunaikan qiyamul lail adalah rezeki dan kenikmatan tiada terkira. Bermesraan dengan Tuhan yang menaungi alam seisinya, Rabbal 'alamain.
Hasbunallah wa ni'mal wakil ni'mal maula wa ni'man nasir. Cukuplah Allah menjadi penolong, dan Dia sebaik-baik pelindung, sebaik-baik pemimpin, dan sebaik-baik penolong.
Insya Allah, setelah rutin memupuk keimanan dengan rajin salat malam, jiwa kita akan tertuntun kepada kebaikan. Semoga kita secara kontinu dapat menuaikannya.
Bagaikan teko, teko yang berisi minuman madu. Semua perkataan kita akan berisi kata-kata hikmah.
Selain tahajud, bermesraan dengan Allah subhanahu wa ta'ala bisa melalui interaksi bersama Al-Qur'an. Membacalah seakan-akan Allah sedang berkomunikasi kepada kita. Bacalah dengan tartil sebaik-baiknya, tidak perlu terburu-buru. Baca juga terjemahannya. Maka semua isi al-huda itu dapat kita bayangkan langsung sebagai tuntunan hidup.
Lalu, pasti akan ada momen ketika kita membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang isinya sangat related dengan apa yang sedang kita hadapi. Bisa jadi jawaban atas keresahan hati kita. Atau kalimat motivasi untuk mengangkat semangat. Dan ajaibnya, bukan hanya kita yang "membaca", melainkan Al-Qur'an yang "membaca" kita.
Rutin membaca Al-Qur'an akan menjaga lisan kita. Sehingga yang keluar hanyalah kalimat karimah. Semoga saya (hamba yang daif dan papa ini) dapat juga istikamah mentadabburi Al-Qur'an.
Di luar dua amal di atas, yakni rajin salat malam dan membaca Al-Qur'an, terdapat banyak cara bermesraan dengan Allah Ar-Rahman Ar-Rahim. Tentulah pembaca yang budiman lebih paham daripada saya.
Tulisan ini hanyalah sebagai pengingat diri yang mudah lupa dan hati yang gampang terbolak-balik. Semoga keteguhan untuk mendekat kepada-Nya, berbekal cinta, kita bisa kembali mengingat alasan kita diciptakan-Nya. Yaitu untuk beribadah dan menghamba kepada Tuhan semesta alam. Islam-lah way of life.
Islam juga agama sosial. Seorang muslim tidak bisa memaksa untuk hidup sendiri, mendominasi, otoriter. Kita mesti peduli dengan orang lain. Kita harus menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kejelekan. Tak ada tools yang lebih baik selain tutur kata yang terpuji.
Mudah-mudahan turut lisan yang lembut, menyejukkan, sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah, kita bisa menunjukkan bagaimana muslim yang sejati. Lebih-lebih perbuatan dan tindak tanduk kita juga mengikuti sunnah Muhammad Al-Amin.
Walhasil, kita bersama saudara seiman akan berbondong-bondong memasuki janah di akhirat kelak. Bermesraan hakiki.
Wahai jiwa yang tenang!
Kembalilah kepada Tuhanmu
dengan hati yang rida dan diridai-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,
dan masuklah ke dalam surga-Ku.
(Quran Surat Al-Fajr ayat 27–30)