Minggu, 02 Agustus 2026

Semua yang Lillah Takkan Pernah Lelah

Dunia hanya sementara. Dunia. Hanya. Sementara. Bagaimana kamu memaknai kalimat tiga kata tersebut?

Beberapa dari kita mungkin mengamini jargon YOLO (You Only Live One), kamu hanya hidup sekali. Sehingga waktunya dihabiskan untuk memenuhi nafsu dan hasrat tak terbatasnya. Sebagian dari kita juga mungkin telah memiliki pemikiran yang lebih jauh daripada sekadar memuaskan keinginan duniawi, yaitu demi tujuan-tujuan yang lebih besar, lebih mulia. 

Sebagai seorang muslim, tentunya pandangan demikian tidaklah asing. Kita percaya adanya kehidupan setelah kematian. Ialah akhirat, tujuan akhir kita. Maka, seorang muslim yang cerdas akan memandang dunia sebagai ladang dalam menyiapkan bekal kehidupan nanti. Yang tentu saja abadi itu.

Selayaknya tulisan yang sekarang Rekan-rekan baca, merupakan ikhtiar dan upaya pengingat bagi diri saya pribadi yang mudah lupa. Alpa. Papa. Daif. Syukur-syukur bisa menginspirasi semuanya dalam menjalani detak-detik kehidupan yang diselimuti oleh kenikmatan Allah al-wahab di dunia ini. Sebab telah dihembuskannya ruh ke dalam diri kita, ditakdirkannya kita sebagai salah satu abdi-Nya, oleh karena itu bagaimana wujud syukur kita?

Suatu ketika di kantor, saya mengobrol dengan rekan kerja yang duduk di meja sebelah. "Bekerja itu seharusnya untuk bersyukur seperti yang diperintahkan kepada keluarga Nabi Daud alaihissalam," ujar saya. Lalu, dengan mudahnya, dia membacakan kutipan ayat di dalam Al-Qur'an yang menjadi referensi orbolan kita itu, dan ia melanjutkan, "Surat Saba', kan?" Saya mengangguk mengiyakan dan semakin takzim kepadanya.

"...Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).
Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur."
Quran Surat Saba' [34] ayat 13

Tak banyak orang yang meniatkan bekerja sebagai sarana bersyukur. Mayoritas malah melihat mata pencaharian hanya sebatas rutinitas yang kadang kosong makna. Berangkat pagi, pulang sore. Kalau di kantor tidak perlu bersusah payah menyelesaikan tugas-tugas, disebabkan satu dan lain hal, kita amat sangat senang. Namun, pembahasan terkait pekerjaan di negara ini terlalu kompleks. Bukan untuk dibahas lebih detail di sini. Intinya, sudah semestinya kita sebagai seorang muslim melihat profesi dan jabatan sebagai bentuk penghambaan bagi Allah azza wa jalla.

Saya masih ingat dawuh Gus Baha di salah satu pengajiannya, yang kurang lebih pesannya seperti ini: kita ditakdirkan oleh Allah bisa sujud saja sudah luar biasa, dan itu akan menjadi kenangan terbaik kita selama hidup di dunia. Sudah sepatutnya seorang hamba, sujud jadi sebuah keniscayaan. Terlepas dari diterima atau tidak. Walaupun supaya lebih sempurna, unsur-unsur fikih yang mengakibatkan sujud kita diterima oleh Allah, tentulah harus kita penuhi.

Lalu, apa kaitannya dengan pekerjaan? Terdapat hikmah di sini. Rutinitas harian bisa jadi melalaikan kita, menjauhkan kita dari hakikat dan alasan mengapa kita diciptakan. Maka sujud telah menjadi semacam mekanisme pertahanan spiritual dari lelah dan sesaknya tugas profesi kita. Ketika bermacam persoalan menghadang, sujud adalah solusi. Kita kembalikan semuanya kepada pemilik alam semesta, Allah rabbal 'alamin.

Melalui salat, mengucapkan "Allahuakbar", otak kita dipenuhi kesadaran bahwa kita punya Tuhan yang jauh lebih besar dari semua permasalahan kita, problematika kita, beban berat kita. Insya Allah pasti ada jalan. Setiap hari dimulai dengan salat subuh, lalu kita berangkat ke kantor, menjalani tugas yang diamanahkan. Selanjutnya, setelah penat menyapa kita isi lagi semangat lewat salat duhur. Terus salat asar, magrib, isya. Begitu seterusnya. Kita menunggu salat dengan mensyukuri hidup, bekerja karena Allah subhanahuwata'ala. Bukannya hakikatnya seperti itu? (Tolong ingatkan saya jika saya lupa tentang ini di kemudian hari)

Akhirnya kita sampai di penghujung tulisan singkat ini. Apabila kita telah sepakat bahwa dunia ini hanya sementara, dengan terbatasnya waktu, mengapa harus mengorbankan penghambaan kita pada Allah ta'ala untuk mengejar sesuatu yang tidak kekal? Kesenangan semu? Harta yang tak halal? Usia yang tak panjang ini semestinya kita maksimalkan untuk berbakti kepada Allah subhanahuwata'ala. Kerja keras kita sewajarnya dipersembahkan kepada-Nya. Hanya pada-Nya lah kita memohonkan keridaan. Lalu semoga Dia mengganti kepayahan kita dengan janah. Lebih-lebih perjumpaan indah dengan-Nya. Aamiin.

Sebagai penutup, meminjam istilah yang dulu sering kali saya dengar saat di organisasi kerohanian islam kampus, "Semua yang lillah takkan pernah lelah."

Sabtu, 01 Agustus 2026

Kerepotan Bergabung Klub Gosip

"Wahai orang-orang yang beriman!
Jauhilah banyak dari prasangka,
sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa
dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain
dan janganlah ada di antara kamu
yang menggunjing sebagian yang lain.
Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?
Tentu kamu merasa jijik.
Dan bertakwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat,
Maha Penyayang."
Quran Surat Al-Hujurat ayat 12

Kita patut memberi apresiasi setinggi-tingginya pada orang-orang yang menghabiskan waktu dan tenaganya, sekadar hanya untuk bergosip --membicarakan aib dan kejelekan sesama. Kala terdapat opsi lain seperti mengaktualisasi diri, berzikir kepada Allah, atau menjalankan amalan yang lebih bermanfaat, justru yang mereka pilih adalah mencurahkan detak-detik hidupnya buat menggunjing orang lain. Berbisik-bisik mendiskusikan keburukan makhluk Allah subhanahuwata'ala. Sudah jelas tertulis larangannya sesuai ayat Al-Qur'an yang terkutip pada kalimat pembuka esai ini. 

Namun, memang tidak mungkin Sang Maha Pengasih memerintahkan segala sesuatu yang "mudah". Masa, Tuhan mewajibkan orang bernapas? Absurd, sebab napas telah jadi kebutuhan. Masa, Tuhan mengharuskan hamba-Nya menghindari singa? Mustahil, sudah naluri manusia. Kedua contoh itu mudah dilakukan, sehingga secara otomatis sepaket dengan akal sehat dan rasional manusia. Tak mungkin dilarang. Berbeda halnya dengan menjauhi kegiatan menggunjing sebagian yang lain.

Semua yang dilarang pasti bertujuan menjaga muruah manusia. Demi kehormatan manusia.

Allah Yang Maha Pemaaf menganalogikan gosip atau pergunjingan seperti memakan mayat saudara sendiri. Sebuah analogi yang begitu natural, yang barangkali boleh meminjam istilah homo homini lupus, yang berarti "manusia adalah serigala bagi manusia yang lain". Janganlah seperti itu.

Sejatinya sesama manusia perlu saling mengasihi, bahkan sejak dalam pikiran, harus adil. Menjauhi prasangka-prasangka.

Beberapa orang mungkin tumbuh dan menjalani kehidupan tanpa memiliki pemahaman tentang "setiap manusia itu suci". Semua orang setara, yang wajib dijaga kehormatannya. Sehingga tidak serta merta dapat dilecehkan di belakang punggungnya. Memangnya siapa kita untuk bisa menghakimi orang lain? Padahal apa yang dituduhkan tersebut belum dapat dibuktikan kebenarannya. Apakah ada yang lebih buruk dari perbuatan demikian?

Orang-orang yang suka membicarakan hal-hal negatif tentang orang lain, mestinya memiliki kesadaran berikut. Mereka yang menjadi korban adalah ibu, anak perempuan, saudara perempuan orang lain. Apakah kita akan rela jika ibu, anak perempuan, atau saudara perempuan kita direndahkan? Mereka yang merupakan objek rumor ialah bapak, anak laki-laki, saudara laki-laki orang lain. Apakah kita rida apabila bapak, anak laki-laki, atau saudara laki-laki kita dihina?

Tentu saja tidak. Sekali-kali tidak.

Melihat betapa merepotkannya kegiatan gosip, sudah sepantasnya kita jauhi perbuatan tersebut. Harus mencari orang yang sepemikiran dengan kita. Harus memastikan orang yang kita ajak gibah tidak akan membocorkannya. Duh! Repot sekali. 

Terlebih jika ada yang menceritakan keburukan orang, bisa jadi bukan pandangan kita yang berubah tentang si objek gibah, melainkan terhadap yang bercerita itu. Kita tidak mempercayai bahwa ada yang suka bergosip, yang mengajak kita join klub pergunjingan mereka. Hanya kepada Allah subhanahuwata'ala kita memohon perlindungan.

Lalu, bagaimana sikap kita bila sekadar ingin bersopan menghadapi ajakan demikian? Kalau saya, selalu membiasakan diri mencari counter opinion, opini tandingan. Persepsi yang bisa berupa fakta atau subjektivitas positif yang kita susun di dalam kepala. Opini itu akan menjadi pembanding atau penetral dari negativitas yang dialamatkan terhadap si objek gibah. Tidak peduli apakah sebenarnya kita mengiyakan gosip tersebut, sebisa mungkin harus menjadi sang pembela. Bukannya gimana-gimana, tetapi Allah yang suruh. Berbuat baik dan menjaga martabat orang lain karena Allah azzawajalla. Titik.

Bagaimana contoh praktisnya? Misalkan diceritakan kepada kita jika si A itu suka marah-marah tidak jelas dan hobi menghina. Respon kita: mungkin yang bersangkutan hanya ingin mendisiplinkan tim dan mengalami hari yang buruk. Dapat juga kita berikan contoh-contoh dan dalil lainnya.

Selanjutnya, apabila kita diajak oleh seorang teman mengobrolkan kejelekan teman yang lain, lantaran keduanya sedang bermusuhan, di sini kita diperbolehkan untuk berbohong. Berbohong dengan tujuan mendamaikan dua orang yang berselisih adalah perbuatan mubah dalam islam. Dan bisa jadi sangat dianjurkan, toh?

Hal tersebut bersumber dari hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak disebut pendusta jika bertujuan mendamaikan di antara manusia, menumbuhkan kebaikan, atau mengatakan perkataan yang baik."

Intinya berpegang teguh pada agama di jaman yang serba berisi fitnah ini sangat berat. Seperti menggenggam bara api. Apalagi bagi kita yang mencoba untuk menghindari pergunjingan. Kayak rasa-rasanya masih banyak hal yang jauh lebih bermanfaat daripada kegiatan hina itu. Bukankah fitrah manusia membenci kemungkaran?

Namun, nyatanya tidak semua orang menganggap gosip perbuatan tercela. Mengapa demikian? Tentu saja media sosial berperan besar dalam menormalisasi gosip. Tak kurang konten di lini masa kita yang receh, entah rage bait atau konten viral. Seakan-akan eksistensi manusia hanya dilihat dari seberapa banyak komentar yang diberikan kepada kehidupan orang lain. Padahal manusia merupakan makhluk berinteligensi tinggi, memiliki potensi besar, malah memilih membicarakan hal sia-sia.

"Great minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds discuss people."
~Eleanor Roosevelt

Satu lagi tips yang bisa diterapkan. Setelah kita tahu kapasitas dan kecerdasan manusia yang besar, kita bisa mengubah topik-topik pembicaraan. Tak mungkin mendiskusikan hal-hal kecil, seperti kehidupan orang lain, kekurangan fisik, kejelekan, dan sebagainya. Mengutip ucapan Eleanor Roosevelt: seorang pemikir besar mendiskusikan ide-ide. Mereka berfokus pada konsep, filosofi, inovasi, dan kemungkinan masa depan. Bukankah itu hebat?

Mulai dari sekarang kita biasakan obrolan bermutu. Sepakat?

Lantas bagaimana jika kitalah yang menjadi bahan pergunjingan?

Santai saja.

Orang yang membicarakan kita di belakang, memang sudah sepantasnya berada di belakang kita. Itulah zona ternyaman mereka. Dan kalau Allah ta'ala tidak menutupi aib-aib kita, pastilah dengan sendirinya kehinaan itu akan tampak. Namun, Allah Maha Baik, Dia selimuti semua kekurangan dan kesalahan kita, dosa-dosa kita, supaya sesegera mungkin kita menjemput ampunan-Nya.


Baiklah, inilah esai yang saya tulis. Tulisan ini tentunya bukan tentang saya seorang, melainkan lebih luas lagi. Ini tentang dunia yang lebih baik. Perubahan tidak bisa kita capai secara instan, apakah kau bersedia menemani saya untuk meraihnya?