Kita patut memberi apresiasi setinggi-tingginya pada orang-orang yang menghabiskan waktu dan tenaganya, sekadar hanya untuk bergosip --membicarakan aib dan kejelekan sesama. Kala terdapat opsi lain seperti mengaktualisasi diri, berzikir kepada Allah, atau menjalankan amalan yang lebih bermanfaat, justru yang mereka pilih adalah mencurahkan detak-detik hidupnya buat menggunjing orang lain. Berbisik-bisik mendiskusikan keburukan makhluk Allah subhanahuwata'ala. Sudah jelas tertulis larangannya sesuai ayat Al-Qur'an yang terkutip pada kalimat pembuka esai ini.
Namun, memang tidak mungkin Sang Maha Pengasih memerintahkan segala sesuatu yang "mudah". Masa, Tuhan mewajibkan orang bernapas? Absurd, sebab napas telah jadi kebutuhan. Masa, Tuhan mengharuskan hamba-Nya menghindari singa? Mustahil, sudah naluri manusia. Kedua contoh itu mudah dilakukan, sehingga secara otomatis sepaket dengan akal sehat dan rasional manusia. Tak mungkin dilarang. Berbeda halnya dengan menjauhi kegiatan menggunjing sebagian yang lain.
Semua yang dilarang pasti bertujuan menjaga muruah manusia. Demi kehormatan manusia.
Allah Yang Maha Pemaaf menganalogikan gosip atau pergunjingan seperti memakan mayat saudara sendiri. Sebuah analogi yang begitu natural, yang barangkali boleh meminjam istilah homo homini lupus, yang berarti "manusia adalah serigala bagi manusia yang lain". Janganlah seperti itu.
Sejatinya sesama manusia perlu saling mengasihi, bahkan sejak dalam pikiran, harus adil. Menjauhi prasangka-prasangka.
Beberapa orang mungkin tumbuh dan menjalani kehidupan tanpa memiliki pemahaman tentang "setiap manusia itu suci". Semua orang setara, yang wajib dijaga kehormatannya. Sehingga tidak serta merta dapat dilecehkan di belakang punggungnya. Memangnya siapa kita untuk bisa menghakimi orang lain? Padahal apa yang dituduhkan tersebut belum dapat dibuktikan kebenarannya. Apakah ada yang lebih buruk dari perbuatan demikian?
Orang-orang yang suka membicarakan hal-hal negatif tentang orang lain, mestinya memiliki kesadaran berikut. Mereka yang menjadi korban adalah ibu, anak perempuan, saudara perempuan orang lain. Apakah kita akan rela jika ibu, anak perempuan, atau saudara perempuan kita direndahkan? Mereka yang merupakan objek rumor ialah bapak, anak laki-laki, saudara laki-laki orang lain. Apakah kita rida apabila bapak, anak laki-laki, atau saudara laki-laki kita dihina?
Tentu saja tidak. Sekali-kali tidak.
Melihat betapa merepotkannya kegiatan gosip, sudah sepantasnya kita jauhi perbuatan tersebut. Harus mencari orang yang sepemikiran dengan kita. Harus memastikan orang yang kita ajak gibah tidak akan membocorkannya. Duh! Repot sekali.
Terlebih jika ada yang menceritakan keburukan orang, bisa jadi bukan pandangan kita yang berubah tentang si objek gibah, melainkan terhadap yang bercerita itu. Kita tidak mempercayai bahwa ada yang suka bergosip, yang mengajak kita join klub pergunjingan mereka. Hanya kepada Allah subhanahuwata'ala kita memohon perlindungan.
Lalu, bagaimana sikap kita bila sekadar ingin bersopan menghadapi ajakan demikian? Kalau saya, selalu membiasakan diri mencari counter opinion, opini tandingan. Persepsi yang bisa berupa fakta atau subjektivitas positif yang kita susun di dalam kepala. Opini itu akan menjadi pembanding atau penetral dari negativitas yang dialamatkan terhadap si objek gibah. Tidak peduli apakah sebenarnya kita mengiyakan gosip tersebut, sebisa mungkin harus menjadi sang pembela. Bukannya gimana-gimana, tetapi Allah yang suruh. Berbuat baik dan menjaga martabat orang lain karena Allah azzawajalla. Titik.
Bagaimana contoh praktisnya? Misalkan diceritakan kepada kita jika si A itu suka marah-marah tidak jelas dan hobi menghina. Respon kita: mungkin yang bersangkutan hanya ingin mendisiplinkan tim dan mengalami hari yang buruk. Dapat juga kita berikan contoh-contoh dan dalil lainnya.
Selanjutnya, apabila kita diajak oleh seorang teman mengobrolkan kejelekan teman yang lain, lantaran keduanya sedang bermusuhan, di sini kita diperbolehkan untuk berbohong. Berbohong dengan tujuan mendamaikan dua orang yang berselisih adalah perbuatan mubah dalam islam. Dan bisa jadi sangat dianjurkan, toh?
Hal tersebut bersumber dari hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak disebut pendusta jika bertujuan mendamaikan di antara manusia, menumbuhkan kebaikan, atau mengatakan perkataan yang baik."
Intinya berpegang teguh pada agama di jaman yang serba berisi fitnah ini sangat berat. Seperti menggenggam bara api. Apalagi bagi kita yang mencoba untuk menghindari pergunjingan. Kayak rasa-rasanya masih banyak hal yang jauh lebih bermanfaat daripada kegiatan hina itu. Bukankah fitrah manusia membenci kemungkaran?
Namun, nyatanya tidak semua orang menganggap gosip perbuatan tercela. Mengapa demikian? Tentu saja media sosial berperan besar dalam menormalisasi gosip. Tak kurang konten di lini masa kita yang receh, entah rage bait atau konten viral. Seakan-akan eksistensi manusia hanya dilihat dari seberapa banyak komentar yang diberikan kepada kehidupan orang lain. Padahal manusia merupakan makhluk berinteligensi tinggi, memiliki potensi besar, malah memilih membicarakan hal sia-sia.
"Great minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds discuss people."
~Eleanor Roosevelt
Satu lagi tips yang bisa diterapkan. Setelah kita tahu kapasitas dan kecerdasan manusia yang besar, kita bisa mengubah topik-topik pembicaraan. Tak mungkin mendiskusikan hal-hal kecil, seperti kehidupan orang lain, kekurangan fisik, kejelekan, dan sebagainya. Mengutip ucapan Eleanor Roosevelt: seorang pemikir besar mendiskusikan ide-ide. Mereka berfokus pada konsep, filosofi, inovasi, dan kemungkinan masa depan. Bukankah itu hebat?
Mulai dari sekarang kita biasakan obrolan bermutu. Sepakat?
Lantas bagaimana jika kitalah yang menjadi bahan pergunjingan?
Santai saja.
Orang yang membicarakan kita di belakang, memang sudah sepantasnya berada di belakang kita. Itulah zona ternyaman mereka. Dan kalau Allah ta'ala tidak menutupi aib-aib kita, pastilah dengan sendirinya kehinaan itu akan tampak. Namun, Allah Maha Baik, Dia selimuti semua kekurangan dan kesalahan kita, dosa-dosa kita, supaya sesegera mungkin kita menjemput ampunan-Nya.
Baiklah, inilah esai yang saya tulis. Tulisan ini tentunya bukan tentang saya seorang, melainkan lebih luas lagi. Ini tentang dunia yang lebih baik. Perubahan tidak bisa kita capai secara instan, apakah kau bersedia menemani saya untuk meraihnya?

0 comments:
Posting Komentar