Dunia hanya sementara. Dunia. Hanya. Sementara. Bagaimana kamu memaknai kalimat tiga kata tersebut?
Beberapa dari kita mungkin mengamini jargon YOLO (You Only Live One), kamu hanya hidup sekali. Sehingga waktunya dihabiskan untuk memenuhi nafsu dan hasrat tak terbatasnya. Sebagian dari kita juga mungkin telah memiliki pemikiran yang lebih jauh daripada sekadar memuaskan keinginan duniawi, yaitu demi tujuan-tujuan yang lebih besar, lebih mulia.
Sebagai seorang muslim, tentunya pandangan demikian tidaklah asing. Kita percaya adanya kehidupan setelah kematian. Ialah akhirat, tujuan akhir kita. Maka, seorang muslim yang cerdas akan memandang dunia sebagai ladang dalam menyiapkan bekal kehidupan nanti. Yang tentu saja abadi itu.
Selayaknya tulisan yang sekarang Rekan-rekan baca, merupakan ikhtiar dan upaya pengingat bagi diri saya pribadi yang mudah lupa. Alpa. Papa. Daif. Syukur-syukur bisa menginspirasi semuanya dalam menjalani detak-detik kehidupan yang diselimuti oleh kenikmatan Allah al-wahab di dunia ini. Sebab telah dihembuskannya ruh ke dalam diri kita, ditakdirkannya kita sebagai salah satu abdi-Nya, oleh karena itu bagaimana wujud syukur kita?
Suatu ketika di kantor, saya mengobrol dengan rekan kerja yang duduk di meja sebelah. "Bekerja itu seharusnya untuk bersyukur seperti yang diperintahkan kepada keluarga Nabi Daud alaihissalam," ujar saya. Lalu, dengan mudahnya, dia membacakan kutipan ayat di dalam Al-Qur'an yang menjadi referensi orbolan kita itu, dan ia melanjutkan, "Surat Saba', kan?" Saya mengangguk mengiyakan dan semakin takzim kepadanya.
"...Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).
Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur."
Quran Surat Saba' [34] ayat 13
Tak banyak orang yang meniatkan bekerja sebagai sarana bersyukur. Mayoritas malah melihat mata pencaharian hanya sebatas rutinitas yang kadang kosong makna. Berangkat pagi, pulang sore. Kalau di kantor tidak perlu bersusah payah menyelesaikan tugas-tugas, disebabkan satu dan lain hal, kita amat sangat senang. Namun, pembahasan terkait pekerjaan di negara ini terlalu kompleks. Bukan untuk dibahas lebih detail di sini. Intinya, sudah semestinya kita sebagai seorang muslim melihat profesi dan jabatan sebagai bentuk penghambaan bagi Allah azza wa jalla.
Saya masih ingat dawuh Gus Baha di salah satu pengajiannya, yang kurang lebih pesannya seperti ini: kita ditakdirkan oleh Allah bisa sujud saja sudah luar biasa, dan itu akan menjadi kenangan terbaik kita selama hidup di dunia. Sudah sepatutnya seorang hamba, sujud jadi sebuah keniscayaan. Terlepas dari diterima atau tidak. Walaupun supaya lebih sempurna, unsur-unsur fikih yang mengakibatkan sujud kita diterima oleh Allah, tentulah harus kita penuhi.
Lalu, apa kaitannya dengan pekerjaan? Terdapat hikmah di sini. Rutinitas harian bisa jadi melalaikan kita, menjauhkan kita dari hakikat dan alasan mengapa kita diciptakan. Maka sujud telah menjadi semacam mekanisme pertahanan spiritual dari lelah dan sesaknya tugas profesi kita. Ketika bermacam persoalan menghadang, sujud adalah solusi. Kita kembalikan semuanya kepada pemilik alam semesta, Allah rabbal 'alamin.
Melalui salat, mengucapkan "Allahuakbar", otak kita dipenuhi kesadaran bahwa kita punya Tuhan yang jauh lebih besar dari semua permasalahan kita, problematika kita, beban berat kita. Insya Allah pasti ada jalan. Setiap hari dimulai dengan salat subuh, lalu kita berangkat ke kantor, menjalani tugas yang diamanahkan. Selanjutnya, setelah penat menyapa kita isi lagi semangat lewat salat duhur. Terus salat asar, magrib, isya. Begitu seterusnya. Kita menunggu salat dengan mensyukuri hidup, bekerja karena Allah subhanahuwata'ala. Bukannya hakikatnya seperti itu? (Tolong ingatkan saya jika saya lupa tentang ini di kemudian hari)
Akhirnya kita sampai di penghujung tulisan singkat ini. Apabila kita telah sepakat bahwa dunia ini hanya sementara, dengan terbatasnya waktu, mengapa harus mengorbankan penghambaan kita pada Allah ta'ala untuk mengejar sesuatu yang tidak kekal? Kesenangan semu? Harta yang tak halal? Usia yang tak panjang ini semestinya kita maksimalkan untuk berbakti kepada Allah subhanahuwata'ala. Kerja keras kita sewajarnya dipersembahkan kepada-Nya. Hanya pada-Nya lah kita memohonkan keridaan. Lalu semoga Dia mengganti kepayahan kita dengan janah. Lebih-lebih perjumpaan indah dengan-Nya. Aamiin.
Sebagai penutup, meminjam istilah yang dulu sering kali saya dengar saat di organisasi kerohanian islam kampus, "Semua yang lillah takkan pernah lelah."
0 comments:
Posting Komentar